Bertepatan dengan hari-hari terakhir saya mengenakan seragam putih
abu-abu (lagi sombong nih, udah mau jadi mahasiswa ^^), saya jadi
seperti semua orang: lebih menghargai apa artinya pertemanan.
Sekedar informasi, sebelum sempat mengicipi rasanya putih abu-abu,
semasa saya pake seragam warna-warni (di teka maksudnya), putih merah,
dan putih biru, saya selalu menjadi sepeti anak hilang ( maksudnya?):
saya tak punya teman. Di saat anak-anak satu sekolah bermain bekel di
teras dan kejar-kejaran di lapangan, saya manyun sendirian aja di depan
kelas (soalnya waktu itu kalo istirahat gak boleh masuk kelas). Waktu
anak-anak pada ribut ngegosip hal-hal penting dan gak penting, saya juga
manyun aja di pojokan kelas. Tiap kali masuk pagi pada rebutan kursi
deretan paling bontot tetep aja saya dapet bangku depan sendiri.
Sendirian lagi! Entah saya yang gak nyambung ama mereka ato mereka yang
takut ketularan manyun saya (halah..) tapi yang pasti saya merasa sangat
kesepian.. TT(aduh.. cup cup.. gak ada permen..)
Nah, begitu menginjak pavingan warna merahnya parkiran SMA pertama
saya (emang lo SMA berapa kali, Dy? –) dan berkenalan dengan puluhan
wajah baru, saya pun menemukan arti hidup yang sesungguhnya (waduh,
ketinggian bahasanya..). Memang benar mereka masih wajah-wajah asing
yang bagi saya sama saja seperti wajah-wajah yang saya kenal di bangku
warna-warni-merah-dan-biru dulu. Dan saya pikir mereka bakal sama aja
dengan mereka yang saya kenal di bangku warna-warni-merah-dan-biru itu:
nyuekin saya seolah-olah saya punya kutil sebesar bola tenis di bawah
hidung saya dan bisa menular dalam radius tiga meter (kutil segede itu
gimana lo nafasnya, Dy?)..
Pertamanya emang betul sih (bukan kutilnya yang betul, tapi sifat
wajah-wajah barunya.. –). Tapi lama kelamaan tidak. Entah mereka yang
memang ‘berbeda’ dengan mereka, atau justru saya yang ternyata bisa
‘berbeda’ dengan saya yang sebelumnya (mbulet) tapi kenyataannya mereka
memang berbeda. Di bangku anak tak berjurusan di SMA, saya belajar satu
hal:
TEMAN, artinya bukan sekedar “orang lain yang kita kenal dan mengenal kita secara dekat”, tapi
TEMAN, artinya BELAHAN OTAK KITA
(bukan berarti kita berteman supaya kita gak mikir-mikir banget waktu ulangan, lo ^^)
Karena sesungguhnya kita berpikir dan merasakan di bagian tubuh yang
sama, yaitu otak. Hati itu tempat pembentukan sel darah merah dan
pembentukan empedu yang berguna untuk mengemulsi lemak dan membentuk
pigmen bilirubin dan biliverdin sebagai pewarna urin yang sudah dibentuk
di ginjal (bentar-bentar, tadi kayaknya gak ngomongin ini, deh –a).
Sedangkan jantung itu cuma gumpalan otot di rongga dada sebelah kiri
yang berguna untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan paru-paru (bukan
ngomongin ini juga, deh, kayaknya.. apa ya?) Sekarang mari kita lihat,
di mana hulu dari seua yang kita anggap pusat perasaan–set set set–dan
ternyata semuanya kembali ke OTAK.
NAh, sekarang bayangkan otak kita terbelah dan salah satu belahannya
berubah wujud jadi Power Ranger yang kita namakan ‘teman’. Dia nyambung
sama apa yang kita pikirkan, dia paham sama apa yang kita rasakan, dia
tahu yang kita mau, dan demikian juga kita terhadapnya.
Dan itulah yang pertama saya pelajari dari bangku putih abu-abu.
Dan.. (waduh, terlalu privasi) di bangku tanpa jurusan itu juga saya
merasakan bahwa pribadi sedatar tembok saya ternyata bisa berubah jadi
selembut yang namanya–(tiiit, access denied)–saya jadi sadar bahwa masa
SMA bisa merubah apa saja! (-^^-
hehe..)
(Tapi bukan itu intinya..–) Lalu, begitu naik kelas dua, saya mendapat pelajaran berikutnya:
SMA, artinya bukan “masa pendidikan di mana seorang anak belajar
merintis masa depan dari kehidupan yang kekanak-kanakan menuju dewasa”,
tapi
SMA, artinya “masa di mana yang salah dan yang betul adalah benar”,
(hah?)
Hal ini merajuk pada masa-masa saya pertama kali merasakan kelas
jurusan IPA bersama temen- teman saya yang–sedikit-sedikit banyak–gila.
Waktu itu saya duduk paling depan, , saya akui itu adalah
masa di mana saya mendapat prestasi belajar paling jeblok seumur hidup
saya (^^ hehe, jadi malu) sekaligus paling tinggi (kadang-kadang).
Paling jeblok soalnya dalam jam-jam sekolah, porsi belajar saya hanya
20% dari porsi “gila-gilaan bersama teman-teman” saya, artinya saya
hanya ‘serius’ selama 1,5 jam dari 7 jam saya berada di sekolah, dan
sisanya adalah kegilaan bersama teman-teman. (hehe..)
Dan begitu saya naik kelas yang merupakan tujuan akhir saya menginjak paving merah parkiran MAN, saya mempelajari hal terakhir:
KAYA, artinya bukan “mempunyai banyak harta dan ilmu setinggi bintang”, tapi
KAYA artinya adalah “mempunyai banyak belahan otak di mana mereka juga
mempunyai banyak harta dan ilmu setinggi bintang seperti yang telah dan
akan kita capai”.
(..huaa, dalem bener..)
Tapi itu memang hal yang saya dapet selama mengenakan seragam kebanggaan
saya selama tiga tahun terakhir ini. Gak rugi saya bolak-balik ber kilo
tiap hari cuman buat melototin papan tulis .Tapi yang paling penting saya gak rugi
sekolah di MAN kebanggaan saya karena dengan sekolah di sana saya
mengenal banyak teman yang tak akan pernah mungkin tergantikan..
SEKIAN ..
Wassalam
By
INDRA AHMAD FIRDAUS
(XII ipa 2)
Minggu, 18 Maret 2012
Selasa, 13 Maret 2012
Rabu, 29 Februari 2012
Pendidikan Islam di Eropa: Jerman
Pencarian
pengakuan dan identitas dari para imigran Muslim, terutama Turki
Muslim, di Jerman dan negara Eropa lainnya terus berproses. Upaya
integrasi yang dilakukan oleh pemerintah, kaum muslim, dan lainnya terus
dilakukan, agar eksistensi kaum muslim di sana dapat sejajar dengan
penduduk Jerman lainnya. Upaya tersebut, sedikit demi sedikit membuahkan
hasil, di antaranya "Masuknya studi Islam di berbagai lembaga kajian
dan pendidikan'" di Jerman, bahkan Islam menjadi bagian dari kurikulum
pendidikan bagi kalangan Muslim di Jerman, sebagaimana digambarkan dalam
beberapa tulisan bagian awal. Pada bagian kedua, beberapa tulisan
menggambarkan pro-kontra dari para petinggi Jerman mengenai Islam dan
muslim dalam konteks eksistensi, integrasi, dan kontribusi kaum Muslim
terhadap "kebangsaan dan peradaban" Jerman. Tulisan-tulisan ini
dikumpulkan dari situs http://www.republika.co.id, sebagaimana disebutkan dalam sumber (tulisan di bagian akhir), dengan beberapa modifikasi.
Studi Islam Resmi Jadi Program di Universitas Wolfgang Goethe Frankfurt
Perlu
diketahui bahwa Kaum Muslim yang tinggal di Jerman mencapai 4,3 Juta,
dan 2,5 Juta di antaranya adalah berasal dari kaum imigran
Turki. Berbagai persoalan yang mewarnai hubungan antara Islam (Muslim)
dan Jerman (serta Eropa lainnya) mendapatkan perhatian serius dari
kalangan akademisi dan pemerintah Jerman. Salah satunya diupayakan
oleh Universitas Wolfgang Goethe di Frankfurt Jerman. Universitas ini
membuka program kajian Islam selama tiga tahun pada semester musim
dingin tahun 2010.
Program
sarjana itu akan fokus pada kajian ilmiah agama dan aspek sejarah
Islam. Keberhasilan program studi kajian Islam itu akan ditinjau ulang
oleh universitas tiga tahun sejak peluncuran. Pemerintah Jerman pun
mengumumkan rencana di awal tahun ini untuk mendirikan institut khusus
bagi kajian Islam untuk melatih generasi pemuka Muslim dan pengajar
agama untuk lebih mampu beradaptasi dengan masyarakat Barat. "Jumlah
anak-anak dan kaum muda Islam di Jerman sangat tinggi dan meningkat
setiap saat" ujar Menteri Pendidikan Jerman, Annete Schavan. Karena itu,
pemerintah juga menyambut proposal yang diajukan dewan penasihat
pendidikan untuk membentuk pusat teologi Islami di dua perguruan tinggi
negeri.
Program
itu sekaligus secara halus mengendalikan bagaimana bentuk pendidikan
keyakinan diajarkan ke populasi Muslim yang kian berkembang. Tujuan
pemerintah, selain agar kaum muslim lebih adaptif dan berintergrasi
secara penuh, kaum muda Muslim juga tak mudah mengikuti pemikiran
ekstrimisme dan kelompok radikal. Pada sisi yang lain, umat muslim
Jerman pun berusaha keras untuk mengikis sterotype tentang Islam dan
Islamophobia dari kalangan non-muslim.
Kajian Islam Jadi Kurikulum Baru Pendidikan di Jerman
Menteri
Pendidikan Jerman, Annette Schavan mendukung rencana memasukan Islam
sebagai bagian dari kurikulum di negara tersebut. Schavan menilai
kurikulim tentang Islam bisa mengantarkan integrasi masyarakat Muslim
Jerman secara utuh. Tak hanya itu, keberadaan pendidikan tentang islam
akan menjadi jembatan kesepahaman antara pelajar muslim dan nonmuslim di
Jerman. "Tentu saya sangat mengetahui ketakutan warga Jerman ketika
membahas masalah tersebut. Namun, saya melihatnya sebagai wujud
kebebasan beragama sekaligus menengahi dialog antara muslim dan
nonmuslim," ungkapnya seperti dikutip dari Abnar.ir, Senin (26/7/2010).
Ia
mengakui, selama ini pendidikan tentang islam tidaklah berkaitan erat
dengan Alquran namun lebih condong kepada islam radikal. Maka itu, kata
dia, kebijakan baru bisa menjauhkan islam dari citra kekerasan dan
radikalisme serta membuatnya menjadi sangat transparan. "Pengalaman saya
sebagai menteri kebudayaan sangat positif. Penerimaan terhadap islam di
Jerman berubah drastis," ungkapnya. "Faktanya, tidak ada yang
dirahasiakan soal Islam ketika diajarkan," kata dia. Selain mendukung
kebijakan baru tentang kurikulum Islam, Schavan memimpikan pendirian
universitas yang khusus mengkaji Islam. Ia juga mengharapkan adanya
pendidikan tentang Imam di Univeritas di Jerman, yang akan bekerja
sebagai guru di masjid. "Kami membutuhkan pemimpin yang mempelajari
agama secara ilmiah dan kritis," kata dia.
Schavan
juga mengatakan komunitas muslim di Jerman sebaiknya memahami diri
mereka sebagai bagian dari masyarakat Jerman. Ia meminta tidak ada
isolasi ataupun tuduhan bernada diskriminasi. "Jadi, tidak akan ada
isolasi, semua berjalan secara transparan," tegas dia. Sebagai
informasi, Schavan merupakan sosok dibalik perkenalan kurikulum islam
di Baden-Württemberg. Semasa menjadi menteri kebudayaam, Schavan
memperbolehkan seorang guru muslim untuk mengenakan jilbab. Langkah
Schavan bukan tanpa menuai protes dari warga Jerman. Namun, seiring
perkembangan komunitas Islam di Jerman, negara tersebut memiliki
kebijakan lain tentang penanganan komunitas muslim seperti tidak
mengikuti Perancis dan Belgia yang melarang burka.
Uji Coba Pendidikan Islam di Beberapa Sekolah di Jerman
Negara bagian di Jerman,
Niedersachsen (Lower Saxony), mulai memberikan ajaran Islam dalam
sekolah-sekolah di wilayahnya. Kebijakan itu diterapkan untuk melawan sentimen
anti-Islam atau Islamofobia di Eropa. Menteri Pendidikan di negara bagian yang
terletak di Barat Laut Jerman ini, Bernd Althusmann, mengumumkan seluruh
sekolah di negara bagian tersebut akan memasukkan pendidikan Islam dalam
kurikulum pendidikan utama. ''Saya pikir kita akan mulai menerapkannya pada
tahun ajaran mendatang,'' ujarnya saat mengunjungi sekolah dasar di Hanover,
termasuk mengunjungi kelas pendidikan Islam di sekolah itu. Pada tahun 2010, pendidikan
Islam sudah diujicobakan di 42 sekolah di sana. Sekitar 2 ribu siswa Muslim di
sekolah-sekolah dasar telah mendapatkan pendidikan Islam di negara bagian itu.
Kebijakan itu diterapkan setelah
dipicu oleh gelombang baru sentimen anti-Islam, terutama sikap konservatif
politikus Belanda, Geert Wilders, yang membeci Islam dengan membuat film Fitna.
Bahkan di Jerman sendiri kini telah berdiri partai baru yang diberi nama Partai
Kebebasan yang dibentuk oleh anggota Parlemen Berlin, René Stadtkewitz, yang
pandangan politiknya anti-Islam. Partai Kebebasan itu bahkan telah
mengundang Wilders untuk berpidato di Berlin. Stadtkewitz (45 tahun) mengatakan
Islam merupakan penghalang integrasi antara imigran dengan masyarakat Jerman.
''Islam bukan hanya agama, tetapi juga sistem politik. Islam tidak toleran
terhadap orang-orang yang berpikir secara berbeda,'' katanya.
Menjadi
Kebijakan: Islam Masuk dalam Kurikulum Sekolah Jerman
Sebagai tindak lanjut dari uji coba di atas, Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de
Maziere Senin (15/2/2011) menyerukan kepada 16 negara bagian untuk memasukkan
agama Islam dalam kurikulumnya di sekolah-sekolah. Berbicara di kota Jerman
selatan, Nuremberg, ia meminta pemerintah agar menyetujui konsep agama Islam
dalam kelas pada tahun depan. De Mazier mengungkapkan, kelas Islam di beberapa sekolah
Jerman tidak akan lama lagi masuk dalam ujian masuk sekolah, tetapi seharusnya
dalam kenyataanya harus dilandaskan dengan hukum yang kuat.
Ia menambahkan, setiap warga negara Jerman harus datang dan membantu atas solusi pragmatis yang dimilikinya. Beberapa negara bagian di Jerman telah lebih dulu memasukkan agama Islam dalam kurikulumnya, tetapi Berlin bertujuan untuk menawarkan Islam sebagai subjek reguler di sekolah-sekolah di seluruh negeri, diajarkan dalam bahasa Jerman oleh guru-guru yang terlatih di Jerman. Salah satu kendala utama dari kelas-kelas ini adalah dana dan kekurangan guru agama Islam. Ada sekitar empat juta Muslim yang tinggal di Jerman, termasuk sekitar 2,5 juta adalah orang Turki. Umumnya, kemampuan komunikasi berbahasa Jerman (dan Inggris) dari kaum imigran Turki cukup rendah. Oleh karenanya, mereka mengalami kendala bahasa (dan lainnya) ketika bersosialisasi dan berintegrasi di Jerman.
Ia menambahkan, setiap warga negara Jerman harus datang dan membantu atas solusi pragmatis yang dimilikinya. Beberapa negara bagian di Jerman telah lebih dulu memasukkan agama Islam dalam kurikulumnya, tetapi Berlin bertujuan untuk menawarkan Islam sebagai subjek reguler di sekolah-sekolah di seluruh negeri, diajarkan dalam bahasa Jerman oleh guru-guru yang terlatih di Jerman. Salah satu kendala utama dari kelas-kelas ini adalah dana dan kekurangan guru agama Islam. Ada sekitar empat juta Muslim yang tinggal di Jerman, termasuk sekitar 2,5 juta adalah orang Turki. Umumnya, kemampuan komunikasi berbahasa Jerman (dan Inggris) dari kaum imigran Turki cukup rendah. Oleh karenanya, mereka mengalami kendala bahasa (dan lainnya) ketika bersosialisasi dan berintegrasi di Jerman.
Respon Masyarakat Jerman: Kurikulum Agama Islam Penyebar Kebencian
Sebgaian masyarakat
Jerman mengkritik kebijakan pemerintah Jerman terkait masuknya pelajaran Agama
Islam dalam kurikulum sekolah. Menurut Mereka, kebijakan ini berefek pada
penyebaran kebencian terhadap agama lain. Menanggapi kritik itu, Menteri
Pendidikan Jerman mengatakan tidak ada satupun ajaran Islam yang menganjurkan
kekerasan pada umat agama lain.. "Tidak ada satu ayat dalam Alquran yang
membolehkan pelajar menganiaya pelajar berkeyakinan berbeda," kata dia
seperti dikutip rt.com, Jumat (28/10/2011).
Kritik itu bermula
saat ditemukan ada oknum guru yang mengajarkan kebencian terhadap siswanya.
"Orang Kristen gemar ke disko, minum alkohol dan berbuat zina. Percayalah
pada Alquran," demikian klaim temuan masyarakat Jerman. Kepala Dewan Islam Jerman, Burhan Kesici
menilai sebelumnya hubungan antara pemerintah dan masyarakat Jerman
dengan komunitas Muslim dilandasi kecurigaan. Mereka khawatir pemuda Muslim
berusaha untuk memberlakukan hukum syariat di Jerman, katanya.
Salah seorang tokoh
Gerakan Pax Europa Citizens, Karl Schmidt, menuduh guru Agama Islam mengajarkan
kepada muridnya bahwa mereka adalah umat unggul. Ia mengajarkan pula bahwa
hukum syariah lebih tinggi daripada hukum Jerman. "Karena itu, mereka
berusaha untuk memberlakukan hukum syariat," papar dia.
Sebelumnya,
Menteri Dalam Negeri Jerman Thomas de Maziere Senin menyerukan kepada 16 negara
bagian untuk memasukkan agama Islam dalam kurikulumnya di sekolah-sekolah.
Berbicara di kota Jerman selatan, Nuremberg, ia meminta pemerintah agar
menyetujui konsep agama Islam dalam kelas pada tahun depan. Beberapa negara
bagian di Jerman telah lebih dulu memasukkan agama Islam dalam kurikulumnya.
Pelajaran itu diajarkan dalam bahasa Jerman oleh guru-guru yang terlatih. Salah
satu kendala utama adalah kekurangan guru agama Islam. Ada sekitar empat juta
Muslim yang tinggal di Jerman, termasuk sekitar 2,5 juta adalah orang Turki.
Sementara itu,
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan kepada Muslim di negerinya untuk
mentaati undang-undang dan bukan hukum syariah. "Sekarang dengan jelas
bahwa di Jerman juga ada kaum Muslim. Tetapi yang terpenting adalah untuk
memberikan perhatian kepada Islam bahwa nilai yang diajarkan Islam terwakili di
dalam UU Jerman," ujar Merkel. Merkel juga mengatakan bahwa Jerman saat
ini membutuhkan seorang imam (pemimpin) dengan pendidikan Jerman dan yang
memiliki akar sosial Jerman.
Kontroversi
Integrasi Imigran Muslim (dan Islam) di Jerman
Islam Dianggap Sebagai Ancaman di Prancis dan Jerman
Sekurangnya 40
persen warga Prancis dan Jerman menganggap Islam sebagai ancaman. Demikian
hasil survey Ifop yang dirilis di harian Prancis, Le Monde,
seperti dilaporkan examiner.com, Rabu (05/01/2011). Menurut survey, responden Prancis yang menganggap Islam
sebagai ancaman mencapai 42 persen. Sementara 22 persen menganggap Islam
sebagai faktor keragaman budaya. Sementara di Jerman, responden yang menganggap
Islam sebagai ancaman mencapai 40 persen, dan 24 persen menilai Islam
memperkaya budaya.
Di
kedua negara, mayoritas responden menilai integrasi Muslim dalam masyarakat
mereka belum terjadi. Mereka bahkan menilai tidak terintegrasi sama sekali.
Pendapat ini dikemukakan oleh 68 persen responden Jerman dan 75 persen
responden Prancis. Sekitar 5 hingga 6 juta Muslim tinggal di Prancis, yang
merupakan negara Eropa dengan populasi Muslim terbesar. Sementara di Jerman ada
4 juta Muslim. Jumlah Muslim di Prancis sebenarnya tidak terdata dengan benar
karena banyaknya imigran ilegal.
Mengenai
pengaruh dan kehadiran Islam, 55 persen responden Prancis dan 49 persen
responden Jerman mengatakan terlalu kentara. Alasan rendahnya integrasi Muslim,
61 persen responden di Prancis dan 67 persen di Jerman mengatakan Muslim menolak
untuk berintegrasi. Baru-baru
ini, Kanselir Jerman Angela Merkel mengejutkan dunia dengan mengatakan model
multikultur yang diadopsi Jerman untuk mengakomodasi jutaan Muslim di sana
telah gagal total. Di
sisi lain, pujian Merkel terhadap kartunis Denmark Kurt Westergard Ahad
lalu menambah buruk suasana. Karena itu, Mazyek mengingatkan komunitas
Muslim Jerman untuk kuat dan tabah menghadapi tekanan dan kebencian.
"Ketakutan terhadap islam tengah dibangun. Sangat disayangkan ketakutan
itu kian memperumit usaha komunitas Muslim Jerman untuk berintergrasi
secara utuh dengan masyarakat Jerman," kata dia.
Menteri Dalam Negeri Jerman: Islam (dan Muslim) Tidak Termasuk Bagian
Identitas Negara
Menteri Dalam Negeri Jerman yang baru ditunjuk
Kanselir Jerman, Angela Merkel, menyalakan kembali debat imigrasi yang sudah
memanas dengan bersikeras menyatakan Islam 'bukan bagian identitas' di Jerman,
yang notabene memiliki populasi Muslim sebanyak 4 juta orang. Hans-Peter
Friedrich, nama menteri dalam negeri baru, mulai berkantor pekan lalu usai
kanselir melakukan perombakan kabinet.
Namun pandangannya yang blak-blakan langsung
memprovokasi kecaman dari anggota parlemen kubu oposisi dan respon pedas dari
grup-grup Islam yang menuding ucapan Hans-Peter adalah 'tamparan bagi seluruh
Muslim'. "Menyatakan Islam bagian dari Jerman bukanlah fakta yang
didukung oleh sejarah," ujar Hans-Peter. Pada akhir pekan ia
menggarisbawahi posisinya dan bersikeras bahwa para imigran harus sadar
sepenuhnya dengan negara tuan rumah yang "asli Kristen Barat" dan
mempelajari Bahasa Jerman "sebagai bahasa pertama dan yang utama".
Pandangannya mutlak
bertentangan dengan presiden konservatif Jerman, Christian Wulff. Dalam sebuah
upaya meredakan friksi integrasi yang kian pahit, Wulff pada tahun lalu
menyatakan bahwa Islam secara gamblang 'bagian dari Jerman' dilihat dari
populasi Muslim yang tumbuh dan besar. Hans-Peter, yang berasal dari sayap
Bavaria partai Kristen Demokrat, partai yang menaungi Merkel, dikenal menentang
keberadaan imigrasi kaum Muslim. Namun ia meyakini pidatonya pada Sabtu lalu
bertujuan 'melekatkan masyarakat menjadi satu dan bukan bermaksud
mencerai-beraikan'.
Ia juga menegaskan
menunggu kesempatan mendiskusikan pandangannnya dengan mayoritas Muslim Turki
di konferensi Islami yang disponsori pemerintah pada akhir Maret 2011. Menteri
Hans-Peter ditunjuk sehari setelah Karl-Theodoro zu Guttenberg, Menteri
Pertahanan Jerman yang sempat moncer dipaksa mundur akibat skandal
plagiarisme dalam pembuatan desertasi untuk gelar doktornya. Demi meminimalkan
kerusakan, Kanselir Merkel dengan cepat merombak kabinetanya, memberi Thomas de
Maizière, menteri dalam negeri yang ia percaya, tugas-tugas menteri pertahanan
dan mengimpor Hans-Peter untuk mengambil alih kantor menteri dalam negeri.
Meski tokoh konservatif Bavaria itu telah menyerukan penghentian imigrasi
Muslim, sedikit yang memperkirakan menteri baru itu akan memercikan kontroversi
begitu cepat. Lamya Kaddor,
pimpinan Yayasan Islam liberal Jerman, menggambarkan ucapannya sebagai
'tamparan bagi seluruh Muslim'. Seraya menuding bahwa pendapat Hans-Peter salah
secara historis maupun politik, Lamya menyatakan komentar menteri sangat
berbahaya karena mengancam merusak dialog dengan komunitas Muslim.
Pernyataan
Hans-Peter juga telah menuai kritikan marah dari oposisi Sosial Demokrat, dan
beberapa anggota partner koalisi Merkel, Demokrat Bebas yang liberal.
"Islam telah menjadi partner nyata Jerman selama beberapa generasi,
menyangkal fakta itu sungguh tidak membantu," keluh anggota parlemen,
Hartfrid Wolff. Ini merupakan episode terbaru debat tentang imigrasi dan
asimilasi yang telah lama berlangsung. Debat ini memuncak pada akhir tahun lalu
menyusul publikasi buku tulisan Thilo Sarrazin, berjudul "Deutschland
schafft sich ab" (Jerman mengikis dirinya sendiri).
Sarrazin
berargumen populasi asli Jerman akan segera dilampaui oleh imigran Muslim yang
berasal dari golongan kelas bawah dan semi-kriminal. Mereka, tuding Sarrazin,
suka memiliki banyak anak, berbicara Jerman sedikit atau tidak sama sekali dan
menggantungkan pada tunjangan sosial untuk bertahan hidup. Bukunya telah
terjual lebih dari 1,3 juta eksemplar, menjadi salah satu judul paling laris
pascaera Perang Dunia II. Debat itu telah menghiasi
headline media nasional selama beberapa bulan, namun selama ini selalu
didominasi oleh politisi. Sementara perwakilan Muslim di Jerman hanya diberi
ruang di kursi belakang. Tahun lalu Kanselir Merkel bahkan menyatakan upaya
untuk membangun masyarakat multikultural 'telah gagal'. Pandangannya bergema
hingga ke Inggris, dengan komentar serupa dilontarkan PM Inggris, David
Cameron, di Jerman bulan lalu. Pernyataan Hans-Peter merupakan isyarat jelas
bahwa suara garis keras terhadap integrasi dibawah pemerintahan konservatif
Merkel menjadi kian nyaring.
Menteri Keuangan Jerman: Umat Islam Bagian dari Jerman
Menteri Keuangan
Jerman, Wolfgan Schauble, Selasa (22/3/2011) waktu setempat, mengingatkan
masyarakat Jerman untuk tidak melakukan tindak diskriminasi terhadap populasi
Muslim. Menurut dia, Islam telah menjadi salah satu bagian dari masyarakat
Jerman. "Kami di setiap kesempatan mengatakan
bahwa Islam adalah bagian dari negara kita dan mengundang umat Islam untuk
menghargai atas apa yang telah kita capai di dunia barat," papar Schauble,
anggota Partai Kristen Demokrat pimpinan Angela Merkel, seperti dilaporkan
Majalah Politik Cicero dan dilansir oleh theloca. Shcaubel
menambahkan agama, iman, demokrasi dan hak asasi manusia bisa sejajar dan
harmonis.
Pernyataan
ini sangat bertolak belakang dengan sikap yang diutarakan Menteri Dalam Negeri
Jerman beberapa waktu lalu. Shcauble mengingatkan agar komunitas Muslim Jerman
yang sebagian besar imigran harus berusaha keras untuk berintegrasi dengan
masyarakat Jerman. Usaha itu menurut dia harus terus dilakukan mengingat apa
yang telah diusahakannya pada saat menjadi Menteri Dalam Negeri dalam membuka
gerbang integrasi melalui dialog sehat sangat membantu proses integrasi.
Shcauble
juga menilai saran yang diberikan Perdana Menteri Turki Recep Tyyip Erdogan
agar imigran Turki di Jerman lebih dulu belajar bahasa Turki baru menyusul
mempelajar bahasa Jerman tidaklah tepat. Ia mengatakan dirinya tidak khawatir
terkait usaha masyarakat Turki konservatif yang mencegah anak-anak mereka
berintegrasi dengan masyarakat Jerman.
Sebelumnya,
Menteri Dalam Negeri Jerman, Hans Peter Friedrich sempat membuat pernyataan
kontroversial dengan mengatakan Islam bukanlah Jerman lantaran tidak memiliki
landasan historis yang kuat. Pernyataan Friedrich membuat perdebatan kian
memanas soal integrasi komunitas Muslim ke dalam masyarakat Jerman. Friedrich
secara luas dikritik oleh kelompok Muslim dan bahkan oleh anggota koalisi
tengah-kanan. Koalisi pemerintahan kanselir Angela Merkel
menekan Friedrich untuk tidak memanaskan perdebatan usai menduduki pos
Kementerian Dalam Negeri.
Presiden Jerman: Islam Bagian dari Jerman dan Kewajiban Saya untuk
Melindungi Muslim
Presiden Jerman,
Christian Wulff menyerukan bangsanya untuk bekerja sama mengintegrasikan empat
juta Muslim di negara itu. Ia menyatakan bahwa Islam adalah 'sekarang bagian
dari Jerman'. Berbicara dari utara kota Bremen pada peringatan 20 reunifikasi,
ia menyebut isu itu dalam bagian utama pidatonya. Pidato Wulff kali ini
berfokus pada tantangan di depan dan perlunya mengokohkan kembali bersatunya
kembali Jerman.
Christian Wulff
Secara khusus, ia berbicara tentang kesulitan mengintegrasikan penduduk Muslim yang besar. "Dua puluh tahun setelah reunifikasi, kita berdiri dalam tugas besar untuk menemukan solidaritas baru di Jerman yang merupakan bagian dari dunia yang cepat berubah " katanya. Sama seperti agama lain, kata dia, maka Muslim adalah bagian dari Jerman yang mempunyai hak dan kewajiban sama. "Kekristenan adalah satu bagian saja dari Jerman. Yudaisme adalah satu bagian saja dari Jerman. Ini adalah sejarah kita Yahudi-Kristen ... tapi sekarang Islam adalah juga merupakan bagian dari Jerman," tambahnya. Menurutnya, adalah kewajibannya kini untuk turut melindungi kaum Muslim yang menjadi bagian warga Jerman. "Ketika Muslim Jerman menulis kepada saya untuk mengatakan 'Anda presiden kita', maka saya membalas dengan segenap hati saya 'ya, tentu saja saya presiden Anda'," katanya.
Jerman memiliki
empat juta Muslim di antara 82 juta penduduknya dan masalah integrasi mereka
telah menjadi berita utama selama berbulan-bulan. Seorang anggota bank sentral
Jerman, Thilo Sarrazin, memicu kemarahan ketika ia mengatakan negara itu sedang
dibuat 'lebih bodoh' oleh imigran Muslim yang berpendidikan rendah dan tidak
produktif. Tak lama kemudian, ia dipaksa mengundurkan diri. Wulff menyerukan
toleransi lebih dari Jerman sangat diperlukan. Ia juga bersikeras bahwa imigran
juga telah menunjukkan upaya nyata untuk berintegrasi. "Mereka yang
tinggal di Jerman harus mematuhi konstitusi negara dan jalan hidup, termasuk
belajar bahasa," katanya.
Sebelumnya,
Komunitas Islam Jerman meminta Presiden Jerman Christian Wulff melawan
islamophobia. Permintaan itu muncul lantaran Muslim di Jerman acap kali
menerima perlakuan diskriminatif sehingga merasa diasingkan dari
masyarakat. Kondisi kian tidak menguntungkan dialami komunitas Muslim
Jerman usai peluncuran buku yang berisikan tuduhan komunitas Muslim
merongrong masyarakat Jerman. Pemimpin komunitas Muslim di Jerman
mengatakan setiap hari pihaknya harus menghadapi pemberitaan negatif
media massa nasional Jerman sebagai bentuk gerakan anti-Islam di negara
itu. Oleh karena itu, komunitas Muslim Jerman mengingatkan kembali janji
Presiden Jerman yang bersedia memfasilitasi pertemuan antara komunitas
Muslim dan masyarakat Jerman dua bulan lalu.
----
Pada kesempatan
berkunjung ke Indonesia, Presiden Jerman, Christian Wulff kembali menegaskan bahwa pemerintah Jerman menginginkan agar
hubungan kaum muslim negara itu dengan Indonesia semakin erat. Keinginan ini
bukan tanpa alasan, mengingat Jerman sudah menjadikan Islam sebagai
bagian dari Negara itu. "Kami ingin lebih erat lagi antara kaum Muslim di
Jerman dan Indonesia. Pada bulan oktober saya berpidato menyampaikan Islam
sudah bagian dari Jerman,"ujar Presiden Republik Federal Jerman,
Christian Wulff saat memberikan keterangan pers bersama dengan Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Merdeka, Kamis (1/12/2011).
Menurutnya para
ahli Islam di Jerman secara aktif memberikan pendidikan tentang Islam di negara
itu. Sementara pemerintah menjaga hak untuk tetap memperoleh pendidikan.
"Kalau kita membantu agama di sana maka dunia akan semakin damai,"
ujarnya. Jerman juga memuji kehidupan beragama di Indonesia. Kebebasan dalam
memilih agama di dalam negeri menjadi telah dalam pengembangan demokrasi.
Sejarah Pendidikan di Dunia Barat
Pendidikan berkembang melalui bermacam proses yang terjadi pada
masyarakat sesuai dengan sejarah berbagai negara di dunia barat. Pada
awalnya, lembaga yang memiliki tanggung jawab sebagai penyalur
sosialisasi adalah gereja dan keluarga. Lalu, lembaga pendidikan
menggantikan lembaga keluarga dan gereja sebagai penyalur sosialisasi
kepada anak-anak. Pendidikan di beberapa negara Eropa pada jaman
pertengahan ditentukan oleh otoritas mutlak melalui lisensi dari paus
atau kaisar untuk mengajarkan misteri dari hukum pengobatan dan teologi
di universitas beraliran kristen (Vaizey, 1974:59). Pendidikan ber
hubungan dengan kepercayaan bahwa seseorang akan mencapai kebenaran
dengan membaca kitab injil. Jadi, pendidikan terkesan dipaksakan dan
tidak boleh dijalankan tanpa petunjuk dari gereja dan sebagai
perpanjangan tangan untuk mengontrol masyarakat.
Sebelum pertengahan abad 19, lembaga pendidikan dapat dimasuki berdasarkan pada kelas sosial. Sekolah umum merupakan sekolah privat dengan biaya yang mahal (Miflen dan Mifflen, 1986: 12). Anak-anak dari keluarga menengah ke bawah sulit untuk sekolah, karena masalah ketidakmampuan memenuhi biaya pendidikan.
Pendidikan dapat dikembangkan berdasarkan adanya tuntutan penyediaan tenaga kerja untuk berbagai kebutuhan negara. Pemerintah Inggris membuat aturan tentang pendidikan untuk anak-anak dari keluarga miskin pada tahun 1833, yaitu ketika factory act (peraturan kepabrikan) seolah-olah memberikan larangan mengenai tenaga kerja anak (buruh anak). Peraturan tersebut sulit dijalankan, karena tuntutan kebutuhan tenaga kerja murah. Vaizey (1974:18) menyatakan bahwa pendidikan akan dianggap sukses apabila rakyat berhasil dilatih untuk menjalankan sebuah pabrik, membangun tentara, atau mengembangkan suatu sistem pertanian.
Pendidikan yang diajarkan dengan cara berbeda antara kaum borjuis dan kaum pekerja. Anak-anak kaum borjuis dididik untuk menjadi pemimpin dan juga diberikan pendidikan berdasarkan buku, sedangkan anak-anak kaum pekerja dilatih untuik bekerja di dalam industri produksi (Vaizey, 1974:36). Pendidikan dapat dimasuki berdasarkan pengkotakan yang diatur sesuai dengan penempatan kelas sosial. Ketidak adilan pendidikan semakin berkembang seiring kemajuan teknologi.
Kemajuan teknologi di Jerman dan di Amerika Serikat membuat Inggris menempati posisi yang imperior. Negara Jerman dan Amerika Serikat mempunyai sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan Inggris (Mifflen dan Mifflen, 1986:13). Inggris mencoba ikut bersaing dengan mengembangkan jurusan teknik dan ketrampilan disebabkan ingin menyamai kedudukan perdagangan Negara Jerman dan Amerika. Pendidikan di ketiga negera tersebut diperluas dengan cepat untuk memberikan keterampilan praktis yang akan digunakan untuk para pekerja di berbagai bidang pekerjaan.
Pada perkembangannya, Siswa pada lembaga-lembaga pendidikan menjadi semakin berkurang. Blyth (1972) melaporkan sampai pertengahan tahun duapuluhan, hanya 12% dari mereka yang menikmati sekolah-sekolah dasar dan empat dari seribu orang siswa yang melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya (dikutif oleh Mifflen dan Mifflen, 1986:14). Kenyataan tersebut terjadi tidak lepas karena anak-anak tidak mampu dibentuk menjadi buruh. Pendidikan bagi anak-anak kaum buruh dibentuk dengan status dan cara hidup tingkat buruh. Pendidikan dikembangkan demi mendapatkan tenaga kerja murah.
Pendidikan tidak adil bagi anak-anak miskin tidak hanya terjadi di Inggris, Amerika dan Jerman. Ketidakadilan pada lembaga pendidikan juga terjadi di Kanada, terjadi diskriminasi terhadap pribumi, anak-anak kaum buruh, orang kulit hitam, dan para imigran. Katz (1973, dikutip oleh Mifflen dan Mifflen, 1986:56) mencatat bahwa diperkenalkannya sekolah yang bebas dan wajib di Kanada bukan suatu reformasi yang ditujukan untuk keuntungan pekerja golongan miskin. Kaum buruh juga terkendala oleh biaya pendidikan yang tidak murah. Kaum buruh mengalami kesulitan untuk memasuki lembaga pendidikan, karena tidak sanggup untuk membayar biaya sekolah.
Jadi, pendidikan di beberapa negara barat merupakan wujud dari permintaan akan tenaga kerja yang murah. Kebutuhan yang mendesak dan persaingan kemajuan teknologi semakin membuat orang-orang tidak mampu atau kaum buruh semakin tersingkir dari lembaga pendidikan. Anak-anak kurang mampu dibentuk menjadi tenaga terampil, mereka kesulitan menikmati pendidikan dan tidak bisa keluar dari pengkotakan, kaum buruh menempati kelas bawah dan kaum borjuis menempati tingkat atas sebagai golongan yang mampu memasuki lembaga pendidikan.
Ketidakaadilan akan pendidikan juga dibawa oleh beberapa negara Eropa ke negara jajahannya. Pada sektor ekonomi modern dan kaya, yang terpusat dikota-kota besar negera sedang berkembang. Pendidikan ditentukan oleh suatu struktur yang mempunyai persamaan besar dengan model pendidikan dari Negara penjajah (Vaizey, 1974: 62), contohnya Negara India dan Pakistan ditemukan sekolah dasar siang yang besar seperti model sekolah di Inggris untuk anak-anak dari pegawai negeri dan masyarakat pengusaha, dan sekolah berasrama khusus untuk anak-anak kaum bangsawan. Belanda juga mengembangkan model pendidikan berdasarkan kepentingan sebagai negara penjajah di Indonesia.
Sejarah Pendidikan di Indonesia
Sejarah pendidikan yang akan diulas adalah sejak kekuasaan Belanda yang menggantikan Portugis di Indonesia. Brugmans menyatakan pendidikan ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dan politik Belanda di Indonesia (Nasution, 1987:3). Pendidikan dibuat berjenjang, tidak berlaku untuk semua kalangan, dan berdasarkan tingkat kelas. Pendidikan lebih diutamakan untuk anak-anak Belanda, sedangkan untuk anak-anak Indonesia dibuat dengan kualitas yang lebih rendah. Pendidikan bagi pribumi berfungsi untuk menyediakan tenaga kerja murah yang sangat dibutuhkan oleh penguasa. Sarana pendidikan dibuat dengan biaya yang rendah dengan pertimbangan kas yang terus habis karena berbagai masalah peperangan.
Kesulitan keuangan dari Belanda akibat Perang Dipenogoro pada tahun 1825 sampai 1830 (Mestoko dkk,1985:11, Mubyarto,1987:26) serta perang Belanda dan Belgia (1830-1839) mengeluarkan biaya yang mahal dan menelan banyak korban. Belanda membuat siasat agar pengeluaran untuk peperangan dapat ditutupi dari negara jajahan. Kerja paksa dianggap cara yang paling ampuh untuk memperoleh keuntungan yang maksimal yang dikenal dengan cultuurstelsel atau tanam paksa (Nasution, 1987:11). Kerja paksa dapat dijalankan sebagai cara yang praktis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Rakyat miskin selalu menjadi bagian yang dirugikan karena digunakan sebagai tenaga kerja murah. Rakyat miskin yang sebagian bekerja sebagai petani juga dimanfaatkan untuk menambah kas negara penguasa.
Kehidupan petani yang selalu ditekan bukan masalah yang baru. Petani menduduki posisi sosial yang selalu dimanfaatkan, lahan pertanian merupakan tempat untuk menggantungkan pendapatan dan hidup petani, terutama petani gurem. Petani menjadi sapi perahan yang harus membayar pungutan resmi untuk membantu jalannya pemerintahan dan penyuplai kebutuhan pejabat daerah (Mubyarto, 1987:24). Praktek tanam paksa sekitar tahun 1830-1870 (di Yogyakarta, Solo, dan Priangan sampai 1918) merupakan kesengsaraan yang tiada taranya dan memiliki kesan yang paling hitam bagi petani dari masa penjajahan Belanda.
Untuk melancarkan misi pendidikan demi pemenuhan tenaga kerja murah, pemerintah mengusahakan agar bahasa Belanda bisa diujarkan oleh masyarakat untuk mempermudah komunikasi antara pribumi dan Belanda. Lalu, bahasa Belanda menjadi syarat Klein Ambtenaarsexamen atau ujian pegawai rendah pemerintah pada tahun 1864. (Nasution, 1987:7). Syarat tersebut harus dipenuhi para calon pegawai yang akan digaji murah. Pegawai sedapat mungkin dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang telah mempunyai kekuasaan tradisional dan berpendidikan untuk menjamin keberhasilan perusahaan (Nasution, 1987:12). Jadi, anak dari kaum ningrat dianggap dapat membantu menjamin hasil tanam paksa lebih efektif, karena masyarakat biasa mengukuti perintah para ningrat. Suatu keadaan yang sangat ironis, kehidupan terdiri dari lapisan-lapisan sosial yaitu golongan yang dipertuan (orang Belanda) dan golongan pribumi sendiri terdapat golongan bangsawan dan orang kebanyakan.
Pemerintah Belanda lambat laun seolah-olah bertanggung jawab atas pendidikan anak Indonesia melalui politik etis. Politik etis dijalankan berdasarkan faktor ekonomi di dalam maupun di luar Indonesia, seperti kebangkitan Asia, timbulnya Jepang sebagai Negara modern yang mampu menaklukkan Rusia, dan perang dunia pertama (Nasution, 1987:17). Politik etis terutama sebagai alat perusahaan raksasa yang bermotif ekonomis agar upah kerja serendah mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Irigasi, transmigrasi, dan pendidikan yang dicanagkan sebagai kedok untuk siasat meraup keuntungan. Irigasi dibuat agar panen padi tidak terancam gagal dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Transmigrasi berfungsi untuk penyebaran tenaga kerja, salah satunya untuk pekerja perkebunan. Politik etis menjadi program yang merugikan rakyat.
Pendidikan dasar berkembang sampai tahun 1930 dan terhambat karena krisis dunia, tidak terkecuali menerpa Hindia Belanda yang disebut mangalami malaise (Mestoko dkk, 1985 :123). Masa krisis ekonomi merintangi perkembangan lembaga pendidikan. Lalu, lembaga pendidikan dibuat dengan biaya yang lebih murah. Kebijakan yang dibuat termasuk penyediaan tenaga pengajar yang terdiri dari tenaga guru untuk sekolah dasar yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan guru (Mestoko, 1985:158), bahkan lulusan sekolah kelas dua dianggap layak menjadi guru. Masalah lain yang paling mendasar adalah penduduk sulit mendapatkan uang sehingga pendidikan bagi orang kurang mampu merupakan beban yang berat. Jadi, pendidikan semakin sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Pendidikan dibuat untuk alat penguasa, orang kebanyakan menjadi target yang empuk diberi pengetahuan untuk dijadikan tenaga kerja yang murah.
Pendidikan dibuat oleh Belanda memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, gradualisme yang luar biasa untuk penyediaan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Belanda membiarkan penduduk Indonesia dalam keadaan yang hampir sama sewaktu mereka menginjakkan kaki, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Kedua, dualisme diartikan berlaku dua sistem pemerintahan, pengadilan dari hukum tersendiri bagi golongan penduduk. Pendidikan dibuat terpisah, pendidikan anak Indonesia berada pada tingkat bawah. Ketiga, kontrol yang sangat kuat. Pemerintah Belanda berada dibawah kontrol Gubernur Jenderal yang menjalankan pemerintahan atas nama raja Belanda. Pendidikan dikontrol secara sentral, guru dan orang tua tidak mempunyai pengeruh langsung politik pendidikan. Keempat, Pendidikan beguna untuk merekrut pegawai. Pendidikan bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi pegawai perkebunan sebagai tenaga kerja yang murah. Kelima, prinsip konkordasi yang menjaga agar sekolah di Hindia Belanda mempunyai kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah di negeri Belanda, anak Indonesia tidak berhak sekolah di pendidikan Belanda. Keenam, tidak adanya organisasi yang sistematis. Pendidikan dengan ciri-cri tersebut diatas hanya merugikan anak-anak kurang mampu. Pemerintah Belanda lebih mementingkan keuntungan ekonomi daripada perkembangan pengetahuan anak-anak Indonesia.
Pemerintah Belanda juga membuat sekolah desa. Sekolah desa sebagai siasat untuk mengeluarkan biaya yang murah. Sekolah desa diciptakan pada tahun 1907. Tipe sekolah desa yang dianggap paling cocok oleh Gubernur Jendral Van Heutz sebagai sekolah murah dan tidak mengasingkan dari kehidupan agraris (Nasution, 1987:78). Kalau lembaga pendidikan disamakan dengan sekolah kelas dua, pemerintah takut penduduk tidak bekerja lagi di sawah. Penduduk diupayakan tetap menjadi tenaga kerja demi pengamankan hasil panen.
Sekolah desa dibuat dengan biaya serendah mungkin. Pesantren diubah menjadi madrasah yang memiliki kurikulum bersifat umum. Pesatren dibumbui dengan pengetahuan umum. Cara tersebut dianggap efektif, sehingga pemerintah tidak usah membangun sekolah dan mengeluarkan biaya (Nasution, 1987:80). Guru sekolah diambil dari lulusan sekolah kelas dua, dianggap sanggup menjadi guru sekolah desa. Guru yang lebih baik akan digaji lebih mahal dan tidak bersedia untuk mengajar di lingkungan desa.
Masa penjajahan Belanda berkaitan dengan pendidikan merupakan catatan sejarah yang kelam. Penjajah membuat pendidikan sebagai alat untuk meraup keuntungan melalui tenaga kerja murah. Sekolah juga dibuat dengan biaya yang murah, agar tidak membebani kas pemerintah. Politik etis menjadi tidak etis dalam pelaksanaannya, kepentingan biaya perang yang sangat mendesak dan berbagai masalah lain menjadi kenyataan yang tercatat dalam sejarah pendidikan masa Belanda.
Belanda digantikan oleh kekuasaan Jepang. Jepang membawa ide kebangkitan Asia yang tidak kalah liciknya dari Belanda. Pendidikan semakin menyedihkan dan dibuat untuk menyediakan tenaga cuma-cuma (romusha) dan kebutuhan prajurit demi kepentingan perang Jepang (Mestoko, 1985 dkk:138). Sistem penggolongan dihapuskan oleh Jepang. Rakyat menjadi alat kekuasaan Jepang untuk kepentingan perang. Pendidikan pada masa kekuasaan Jepang memiliki landasan idiil hakko Iciu yang mengajak bangsa Indonesia berkerjasama untuk mencapai kemakmuran bersama Asia raya. Pelajar harus mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi yang ketat.
Kebangkitan Asia menjadi slogan omong kosong pada kenyataannya. Mubyarto (1987:36) menjelaskan pertanian Indonesia diusahakan dapat mendukung usaha peperangan. Bibit baru dari Taiwan memang berumur lebih pendek dengan hasil per hektar lebih tinggi dipaksakan untuk ditanam dengan sistem larikan (dalam garis lurus) dan dengan menggunakan pupuk hijau dan kompos. Petani menjadi membenci sistem baru tersebut. jaman Jepang sebagai jaman penyiksaan yang kejam. Jadi, petani dibuat sebagai sumber pendapatan yang terus dipaksa untuk manambah hasil panen. Penduduk sebagai alat komoditas yang terus diperas.
Sejarah Belanda sampai Jepang dipahami sebagai alur penjelasan kalau pendidikan digunakan sebagai alat komoditas oleh penguasa. Pendidikan dibuat dan diajarkan untuk melatih orang-orang menjadi tenaga kerja yang murah. Runtutan penjajahan Belanda dan Jepang menjadikan pendidikan sebagai senjata ampuh untuk menempatkan penduduk sebagai pendukung biaya untuk perang melalui berbagai sumber pendapatan pihak penjajah. Pendidikan pula yang akan dikembangkan untuk membangun negara Indonesia setelah merdeka.
Setelah kemerdekaan, perubahan bersifat sangat mendasar yaitu menyangkut penyesuaian bidang pendidikan. Badan pekerja KNIP mengusulkan kepada kementrian pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan supaya cepat untuk menyediakan dan mengusahakan pembaharuan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan rencana pokok usaha pendidikan (Mestoko, 1985:145). Lalu, pemerintah mengadakan program pemberantasan buta huruf. Program buta huruf tidak mudah dilaksanakan dengan berbagai keterbatasan sumber daya, kendala gedung sekolah dan guru. Kementrian PP dan K juga mengadakan usaha menambah guru melalui kursus selama dua tahun. Kursus bahasa jawa, bahasa Inggris, ilmu bumi, dan ilmu pasti(Mestoko dkk, 1985:161). Program tersebut menunjukkan jumlah orang yang buta huruf seluruh Indonesia sekitar 32,21 juta (kurang lebih 40%), buta huruf pada tahun 1971. Buta huruf yang dimaksud adalah buta huruf latin (Mestoko dkk, 1985:327). Jadi, kegiatan pemberantasan buta huruf di pedesaan yang diprogramkan oleh pemerintah untuk menanggulangi angka buta aksara di Indonesia dan buta pengetahuan dasar, tetapi pendidikan kurang lebih tidak berdampak pada rumah tangga kurang mampu.
Kemerdekaan Indonesia tidak membuat nasib orang tidak mampu terutama dari sektor pertanian menjadi lebih baik. Pemaksaan atau perintah halus gampang muncul kembali, contoh yang paling terkenal dengan akibat yang hampir serupa seperti cara-cara dan praktek pada jaman Jepang, bimas gotong royong yang diadakan pada tahun 1968-1969 disebut bimas gotong royong karena merupakan usaha gotong royong antara pemerintah dan swasta (asing dan nasional) untuk meyelenggarakan intensifikasi pertanian dengan menggunakan metode Bimas (Fakih, 2002:277, Mubyarto, 1987:37). Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi beras dalam waktu sesingkat mungkin dengan mengenalkan bibit padi unggul baru yaitu Peta Baru (PB) 5 dan PB 8.37. Pada jaman penjajahan Belanda juga pernah dilakukan cultuurstelsel, Jepang memaksakan penanaman bibit dari Taiwan. Jadi, rakyat dipaksakan mengikuti kemauan dari pihak penguasa. Cara tersebut kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai cara untuk menghasilkan panen yang lebih maksimal. Muller (1979:73) menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia bahwa sebagaian besar masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, paling-paling hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling minim, dan hampir tidak bisa beradaptasi aktif sedangkan golongan atas hidup dalam kemewahan.
Pendidikan pada masa Belanda, Jepang dan setelah kemerdekaan sulit dicapai oleh orang-orang dari rumah tangga kurang mampu. Mereka diajarkan dan diberi pengetahuan untuk kepentingan pihak penguasa. Mereka dijadikan tenaga kerja yang diandalkan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Setelah jaman kemerdekaan, rakyat dari rumah tangga kurang mampu terus menjadi sumber pemaksaan secara halus untuk pengembangan bibit padi unggul. Pendidikan sebagai alat penguasa untuk mengembangkan program yang dianggap dapat mendukung peningkatan pemasukan pemerintah.
Sebelum pertengahan abad 19, lembaga pendidikan dapat dimasuki berdasarkan pada kelas sosial. Sekolah umum merupakan sekolah privat dengan biaya yang mahal (Miflen dan Mifflen, 1986: 12). Anak-anak dari keluarga menengah ke bawah sulit untuk sekolah, karena masalah ketidakmampuan memenuhi biaya pendidikan.
Pendidikan dapat dikembangkan berdasarkan adanya tuntutan penyediaan tenaga kerja untuk berbagai kebutuhan negara. Pemerintah Inggris membuat aturan tentang pendidikan untuk anak-anak dari keluarga miskin pada tahun 1833, yaitu ketika factory act (peraturan kepabrikan) seolah-olah memberikan larangan mengenai tenaga kerja anak (buruh anak). Peraturan tersebut sulit dijalankan, karena tuntutan kebutuhan tenaga kerja murah. Vaizey (1974:18) menyatakan bahwa pendidikan akan dianggap sukses apabila rakyat berhasil dilatih untuk menjalankan sebuah pabrik, membangun tentara, atau mengembangkan suatu sistem pertanian.
Pendidikan yang diajarkan dengan cara berbeda antara kaum borjuis dan kaum pekerja. Anak-anak kaum borjuis dididik untuk menjadi pemimpin dan juga diberikan pendidikan berdasarkan buku, sedangkan anak-anak kaum pekerja dilatih untuik bekerja di dalam industri produksi (Vaizey, 1974:36). Pendidikan dapat dimasuki berdasarkan pengkotakan yang diatur sesuai dengan penempatan kelas sosial. Ketidak adilan pendidikan semakin berkembang seiring kemajuan teknologi.
Kemajuan teknologi di Jerman dan di Amerika Serikat membuat Inggris menempati posisi yang imperior. Negara Jerman dan Amerika Serikat mempunyai sistem pendidikan yang lebih maju dibandingkan Inggris (Mifflen dan Mifflen, 1986:13). Inggris mencoba ikut bersaing dengan mengembangkan jurusan teknik dan ketrampilan disebabkan ingin menyamai kedudukan perdagangan Negara Jerman dan Amerika. Pendidikan di ketiga negera tersebut diperluas dengan cepat untuk memberikan keterampilan praktis yang akan digunakan untuk para pekerja di berbagai bidang pekerjaan.
Pada perkembangannya, Siswa pada lembaga-lembaga pendidikan menjadi semakin berkurang. Blyth (1972) melaporkan sampai pertengahan tahun duapuluhan, hanya 12% dari mereka yang menikmati sekolah-sekolah dasar dan empat dari seribu orang siswa yang melanjutkan pendidikan ke tingkat selanjutnya (dikutif oleh Mifflen dan Mifflen, 1986:14). Kenyataan tersebut terjadi tidak lepas karena anak-anak tidak mampu dibentuk menjadi buruh. Pendidikan bagi anak-anak kaum buruh dibentuk dengan status dan cara hidup tingkat buruh. Pendidikan dikembangkan demi mendapatkan tenaga kerja murah.
Pendidikan tidak adil bagi anak-anak miskin tidak hanya terjadi di Inggris, Amerika dan Jerman. Ketidakadilan pada lembaga pendidikan juga terjadi di Kanada, terjadi diskriminasi terhadap pribumi, anak-anak kaum buruh, orang kulit hitam, dan para imigran. Katz (1973, dikutip oleh Mifflen dan Mifflen, 1986:56) mencatat bahwa diperkenalkannya sekolah yang bebas dan wajib di Kanada bukan suatu reformasi yang ditujukan untuk keuntungan pekerja golongan miskin. Kaum buruh juga terkendala oleh biaya pendidikan yang tidak murah. Kaum buruh mengalami kesulitan untuk memasuki lembaga pendidikan, karena tidak sanggup untuk membayar biaya sekolah.
Jadi, pendidikan di beberapa negara barat merupakan wujud dari permintaan akan tenaga kerja yang murah. Kebutuhan yang mendesak dan persaingan kemajuan teknologi semakin membuat orang-orang tidak mampu atau kaum buruh semakin tersingkir dari lembaga pendidikan. Anak-anak kurang mampu dibentuk menjadi tenaga terampil, mereka kesulitan menikmati pendidikan dan tidak bisa keluar dari pengkotakan, kaum buruh menempati kelas bawah dan kaum borjuis menempati tingkat atas sebagai golongan yang mampu memasuki lembaga pendidikan.
Ketidakaadilan akan pendidikan juga dibawa oleh beberapa negara Eropa ke negara jajahannya. Pada sektor ekonomi modern dan kaya, yang terpusat dikota-kota besar negera sedang berkembang. Pendidikan ditentukan oleh suatu struktur yang mempunyai persamaan besar dengan model pendidikan dari Negara penjajah (Vaizey, 1974: 62), contohnya Negara India dan Pakistan ditemukan sekolah dasar siang yang besar seperti model sekolah di Inggris untuk anak-anak dari pegawai negeri dan masyarakat pengusaha, dan sekolah berasrama khusus untuk anak-anak kaum bangsawan. Belanda juga mengembangkan model pendidikan berdasarkan kepentingan sebagai negara penjajah di Indonesia.
Sejarah Pendidikan di Indonesia
Sejarah pendidikan yang akan diulas adalah sejak kekuasaan Belanda yang menggantikan Portugis di Indonesia. Brugmans menyatakan pendidikan ditentukan oleh pertimbangan ekonomi dan politik Belanda di Indonesia (Nasution, 1987:3). Pendidikan dibuat berjenjang, tidak berlaku untuk semua kalangan, dan berdasarkan tingkat kelas. Pendidikan lebih diutamakan untuk anak-anak Belanda, sedangkan untuk anak-anak Indonesia dibuat dengan kualitas yang lebih rendah. Pendidikan bagi pribumi berfungsi untuk menyediakan tenaga kerja murah yang sangat dibutuhkan oleh penguasa. Sarana pendidikan dibuat dengan biaya yang rendah dengan pertimbangan kas yang terus habis karena berbagai masalah peperangan.
Kesulitan keuangan dari Belanda akibat Perang Dipenogoro pada tahun 1825 sampai 1830 (Mestoko dkk,1985:11, Mubyarto,1987:26) serta perang Belanda dan Belgia (1830-1839) mengeluarkan biaya yang mahal dan menelan banyak korban. Belanda membuat siasat agar pengeluaran untuk peperangan dapat ditutupi dari negara jajahan. Kerja paksa dianggap cara yang paling ampuh untuk memperoleh keuntungan yang maksimal yang dikenal dengan cultuurstelsel atau tanam paksa (Nasution, 1987:11). Kerja paksa dapat dijalankan sebagai cara yang praktis untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Rakyat miskin selalu menjadi bagian yang dirugikan karena digunakan sebagai tenaga kerja murah. Rakyat miskin yang sebagian bekerja sebagai petani juga dimanfaatkan untuk menambah kas negara penguasa.
Kehidupan petani yang selalu ditekan bukan masalah yang baru. Petani menduduki posisi sosial yang selalu dimanfaatkan, lahan pertanian merupakan tempat untuk menggantungkan pendapatan dan hidup petani, terutama petani gurem. Petani menjadi sapi perahan yang harus membayar pungutan resmi untuk membantu jalannya pemerintahan dan penyuplai kebutuhan pejabat daerah (Mubyarto, 1987:24). Praktek tanam paksa sekitar tahun 1830-1870 (di Yogyakarta, Solo, dan Priangan sampai 1918) merupakan kesengsaraan yang tiada taranya dan memiliki kesan yang paling hitam bagi petani dari masa penjajahan Belanda.
Untuk melancarkan misi pendidikan demi pemenuhan tenaga kerja murah, pemerintah mengusahakan agar bahasa Belanda bisa diujarkan oleh masyarakat untuk mempermudah komunikasi antara pribumi dan Belanda. Lalu, bahasa Belanda menjadi syarat Klein Ambtenaarsexamen atau ujian pegawai rendah pemerintah pada tahun 1864. (Nasution, 1987:7). Syarat tersebut harus dipenuhi para calon pegawai yang akan digaji murah. Pegawai sedapat mungkin dipilih dari anak-anak kaum ningrat yang telah mempunyai kekuasaan tradisional dan berpendidikan untuk menjamin keberhasilan perusahaan (Nasution, 1987:12). Jadi, anak dari kaum ningrat dianggap dapat membantu menjamin hasil tanam paksa lebih efektif, karena masyarakat biasa mengukuti perintah para ningrat. Suatu keadaan yang sangat ironis, kehidupan terdiri dari lapisan-lapisan sosial yaitu golongan yang dipertuan (orang Belanda) dan golongan pribumi sendiri terdapat golongan bangsawan dan orang kebanyakan.
Pemerintah Belanda lambat laun seolah-olah bertanggung jawab atas pendidikan anak Indonesia melalui politik etis. Politik etis dijalankan berdasarkan faktor ekonomi di dalam maupun di luar Indonesia, seperti kebangkitan Asia, timbulnya Jepang sebagai Negara modern yang mampu menaklukkan Rusia, dan perang dunia pertama (Nasution, 1987:17). Politik etis terutama sebagai alat perusahaan raksasa yang bermotif ekonomis agar upah kerja serendah mungkin untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Irigasi, transmigrasi, dan pendidikan yang dicanagkan sebagai kedok untuk siasat meraup keuntungan. Irigasi dibuat agar panen padi tidak terancam gagal dan memperoleh hasil yang lebih memuaskan. Transmigrasi berfungsi untuk penyebaran tenaga kerja, salah satunya untuk pekerja perkebunan. Politik etis menjadi program yang merugikan rakyat.
Pendidikan dasar berkembang sampai tahun 1930 dan terhambat karena krisis dunia, tidak terkecuali menerpa Hindia Belanda yang disebut mangalami malaise (Mestoko dkk, 1985 :123). Masa krisis ekonomi merintangi perkembangan lembaga pendidikan. Lalu, lembaga pendidikan dibuat dengan biaya yang lebih murah. Kebijakan yang dibuat termasuk penyediaan tenaga pengajar yang terdiri dari tenaga guru untuk sekolah dasar yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan guru (Mestoko, 1985:158), bahkan lulusan sekolah kelas dua dianggap layak menjadi guru. Masalah lain yang paling mendasar adalah penduduk sulit mendapatkan uang sehingga pendidikan bagi orang kurang mampu merupakan beban yang berat. Jadi, pendidikan semakin sulit dijangkau oleh orang kebanyakan. Pendidikan dibuat untuk alat penguasa, orang kebanyakan menjadi target yang empuk diberi pengetahuan untuk dijadikan tenaga kerja yang murah.
Pendidikan dibuat oleh Belanda memiliki ciri-ciri tertentu. Pertama, gradualisme yang luar biasa untuk penyediaan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Belanda membiarkan penduduk Indonesia dalam keadaan yang hampir sama sewaktu mereka menginjakkan kaki, pendidikan tidak begitu diperhatikan. Kedua, dualisme diartikan berlaku dua sistem pemerintahan, pengadilan dari hukum tersendiri bagi golongan penduduk. Pendidikan dibuat terpisah, pendidikan anak Indonesia berada pada tingkat bawah. Ketiga, kontrol yang sangat kuat. Pemerintah Belanda berada dibawah kontrol Gubernur Jenderal yang menjalankan pemerintahan atas nama raja Belanda. Pendidikan dikontrol secara sentral, guru dan orang tua tidak mempunyai pengeruh langsung politik pendidikan. Keempat, Pendidikan beguna untuk merekrut pegawai. Pendidikan bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi pegawai perkebunan sebagai tenaga kerja yang murah. Kelima, prinsip konkordasi yang menjaga agar sekolah di Hindia Belanda mempunyai kurikulum dan standar yang sama dengan sekolah di negeri Belanda, anak Indonesia tidak berhak sekolah di pendidikan Belanda. Keenam, tidak adanya organisasi yang sistematis. Pendidikan dengan ciri-cri tersebut diatas hanya merugikan anak-anak kurang mampu. Pemerintah Belanda lebih mementingkan keuntungan ekonomi daripada perkembangan pengetahuan anak-anak Indonesia.
Pemerintah Belanda juga membuat sekolah desa. Sekolah desa sebagai siasat untuk mengeluarkan biaya yang murah. Sekolah desa diciptakan pada tahun 1907. Tipe sekolah desa yang dianggap paling cocok oleh Gubernur Jendral Van Heutz sebagai sekolah murah dan tidak mengasingkan dari kehidupan agraris (Nasution, 1987:78). Kalau lembaga pendidikan disamakan dengan sekolah kelas dua, pemerintah takut penduduk tidak bekerja lagi di sawah. Penduduk diupayakan tetap menjadi tenaga kerja demi pengamankan hasil panen.
Sekolah desa dibuat dengan biaya serendah mungkin. Pesantren diubah menjadi madrasah yang memiliki kurikulum bersifat umum. Pesatren dibumbui dengan pengetahuan umum. Cara tersebut dianggap efektif, sehingga pemerintah tidak usah membangun sekolah dan mengeluarkan biaya (Nasution, 1987:80). Guru sekolah diambil dari lulusan sekolah kelas dua, dianggap sanggup menjadi guru sekolah desa. Guru yang lebih baik akan digaji lebih mahal dan tidak bersedia untuk mengajar di lingkungan desa.
Masa penjajahan Belanda berkaitan dengan pendidikan merupakan catatan sejarah yang kelam. Penjajah membuat pendidikan sebagai alat untuk meraup keuntungan melalui tenaga kerja murah. Sekolah juga dibuat dengan biaya yang murah, agar tidak membebani kas pemerintah. Politik etis menjadi tidak etis dalam pelaksanaannya, kepentingan biaya perang yang sangat mendesak dan berbagai masalah lain menjadi kenyataan yang tercatat dalam sejarah pendidikan masa Belanda.
Belanda digantikan oleh kekuasaan Jepang. Jepang membawa ide kebangkitan Asia yang tidak kalah liciknya dari Belanda. Pendidikan semakin menyedihkan dan dibuat untuk menyediakan tenaga cuma-cuma (romusha) dan kebutuhan prajurit demi kepentingan perang Jepang (Mestoko, 1985 dkk:138). Sistem penggolongan dihapuskan oleh Jepang. Rakyat menjadi alat kekuasaan Jepang untuk kepentingan perang. Pendidikan pada masa kekuasaan Jepang memiliki landasan idiil hakko Iciu yang mengajak bangsa Indonesia berkerjasama untuk mencapai kemakmuran bersama Asia raya. Pelajar harus mengikuti latihan fisik, latihan kemiliteran, dan indoktrinasi yang ketat.
Kebangkitan Asia menjadi slogan omong kosong pada kenyataannya. Mubyarto (1987:36) menjelaskan pertanian Indonesia diusahakan dapat mendukung usaha peperangan. Bibit baru dari Taiwan memang berumur lebih pendek dengan hasil per hektar lebih tinggi dipaksakan untuk ditanam dengan sistem larikan (dalam garis lurus) dan dengan menggunakan pupuk hijau dan kompos. Petani menjadi membenci sistem baru tersebut. jaman Jepang sebagai jaman penyiksaan yang kejam. Jadi, petani dibuat sebagai sumber pendapatan yang terus dipaksa untuk manambah hasil panen. Penduduk sebagai alat komoditas yang terus diperas.
Sejarah Belanda sampai Jepang dipahami sebagai alur penjelasan kalau pendidikan digunakan sebagai alat komoditas oleh penguasa. Pendidikan dibuat dan diajarkan untuk melatih orang-orang menjadi tenaga kerja yang murah. Runtutan penjajahan Belanda dan Jepang menjadikan pendidikan sebagai senjata ampuh untuk menempatkan penduduk sebagai pendukung biaya untuk perang melalui berbagai sumber pendapatan pihak penjajah. Pendidikan pula yang akan dikembangkan untuk membangun negara Indonesia setelah merdeka.
Setelah kemerdekaan, perubahan bersifat sangat mendasar yaitu menyangkut penyesuaian bidang pendidikan. Badan pekerja KNIP mengusulkan kepada kementrian pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan supaya cepat untuk menyediakan dan mengusahakan pembaharuan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan rencana pokok usaha pendidikan (Mestoko, 1985:145). Lalu, pemerintah mengadakan program pemberantasan buta huruf. Program buta huruf tidak mudah dilaksanakan dengan berbagai keterbatasan sumber daya, kendala gedung sekolah dan guru. Kementrian PP dan K juga mengadakan usaha menambah guru melalui kursus selama dua tahun. Kursus bahasa jawa, bahasa Inggris, ilmu bumi, dan ilmu pasti(Mestoko dkk, 1985:161). Program tersebut menunjukkan jumlah orang yang buta huruf seluruh Indonesia sekitar 32,21 juta (kurang lebih 40%), buta huruf pada tahun 1971. Buta huruf yang dimaksud adalah buta huruf latin (Mestoko dkk, 1985:327). Jadi, kegiatan pemberantasan buta huruf di pedesaan yang diprogramkan oleh pemerintah untuk menanggulangi angka buta aksara di Indonesia dan buta pengetahuan dasar, tetapi pendidikan kurang lebih tidak berdampak pada rumah tangga kurang mampu.
Kemerdekaan Indonesia tidak membuat nasib orang tidak mampu terutama dari sektor pertanian menjadi lebih baik. Pemaksaan atau perintah halus gampang muncul kembali, contoh yang paling terkenal dengan akibat yang hampir serupa seperti cara-cara dan praktek pada jaman Jepang, bimas gotong royong yang diadakan pada tahun 1968-1969 disebut bimas gotong royong karena merupakan usaha gotong royong antara pemerintah dan swasta (asing dan nasional) untuk meyelenggarakan intensifikasi pertanian dengan menggunakan metode Bimas (Fakih, 2002:277, Mubyarto, 1987:37). Adapun tujuannya adalah untuk meningkatkan produksi beras dalam waktu sesingkat mungkin dengan mengenalkan bibit padi unggul baru yaitu Peta Baru (PB) 5 dan PB 8.37. Pada jaman penjajahan Belanda juga pernah dilakukan cultuurstelsel, Jepang memaksakan penanaman bibit dari Taiwan. Jadi, rakyat dipaksakan mengikuti kemauan dari pihak penguasa. Cara tersebut kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai cara untuk menghasilkan panen yang lebih maksimal. Muller (1979:73) menyatakan berdasarkan penelitian yang dilakukan di Indonesia bahwa sebagaian besar masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan, paling-paling hanya bisa memenuhi kebutuhan hidup yang paling minim, dan hampir tidak bisa beradaptasi aktif sedangkan golongan atas hidup dalam kemewahan.
Pendidikan pada masa Belanda, Jepang dan setelah kemerdekaan sulit dicapai oleh orang-orang dari rumah tangga kurang mampu. Mereka diajarkan dan diberi pengetahuan untuk kepentingan pihak penguasa. Mereka dijadikan tenaga kerja yang diandalkan untuk mencapai keuntungan yang maksimal. Setelah jaman kemerdekaan, rakyat dari rumah tangga kurang mampu terus menjadi sumber pemaksaan secara halus untuk pengembangan bibit padi unggul. Pendidikan sebagai alat penguasa untuk mengembangkan program yang dianggap dapat mendukung peningkatan pemasukan pemerintah.
Senin, 27 Februari 2012
SEJARAH ISLAM DI AMERIKA
Islam di Amerika Sebelum Columbus
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi 'Yasus bin Maria' yang dalam bahasa Arab berarti "Yesus, anak Maria". "Ini bukan frase Kristen,'' cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ''Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,'' papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. heri ruslan
( )
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.
Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika. hri
( )
Senin, 16 Juni 2008Fakta Eksistensi Islam di Amerika
T ahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Christopher Columbus menyebut Amerika sebagai 'The New World' ketika pertama kali menginjakkan kakinya di benua itu pada 21 Oktober 1492. Namun, bagi umat Islam di era keemasan, Amerika bukanlah sebuah 'Dunia Baru'. Sebab, 603 tahun sebelum penjelajah Spanyol itu menemukan benua itu, para penjelajah Muslim dari Afrika Barat telah membangun peradaban di Amerika.
Klaim sejarah Barat yang menyatakan Columbus sebagai penemu benua Amerika akhirnya terpatahkan. Sederet sejarawan menemukan fakta bahwa para penjelajah Muslim telah menginjakkan kaki dan menyebarkan Islam di benua itu lebih dari setengah milenium sebelum Columbus. Secara historis umat Islam telah memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan, seni, serta kemanusiaan di benua Amerika.
''Tak perlu diragukan lagi, secara historis kaum Muslimin telah memberi pengaruh dalam evolusi masyarakat Amerika beberapa abad sebelum Christopher Columbus menemukannya,'' tutur Fareed H Numan dalam American Muslim History A Chronological Observation. Sejarah mencatat Muslim dari Afrika telah menjalin hubungan dengan penduduk asli benua Amerika, jauh sebelum Columbus tiba.
Sejarawan Ivan Van Sertima dalam karyanya They Came Before Columbus membuktikan adanya kontak antara Muslim Afrika dengan orang Amerika asli. Dalam karyanya yang lain, African Presence in Early America, Van Sertima, menemukan fakta bahwa para pedagang Muslim dari Arab juga sangat aktif berniaga dengan masyarakat yang tinggal di Amerika.
Van Sertima juga menuturkan, saat menginjakkan kaki di benua Amerika, Columbus pun mengungkapkan kekagumannya kepada orang Karibian yang sudah beragama Islam. "Columbus juga tahun bahwa Muslim dari pantai Barat Afrika telah tinggal lebih dulu di Karibia, Amerika Tengah, Selatan, dan Utara," papar Van Sertima. Umat Islam yang awalnya berdagang telah membangun komunitas di wilayah itu dengan menikahi penduduk asli.
Menurut Van Sertima, Columbus pun mengaku melihat sebuah masjid saat berlayar melalui Gibara di Pantai Kuba. Selain itu, penjelajah berkebangsaan Spanyol itu juga telah menyaksikan bangunan masjid berdiri megah di Kuba, Meksiko, Texas, serta Nevada. Itulah bukti nyata bahwa Islam telah menyemai peradabannya di benua Amerika jauh sebelum Barat tiba.
Fakta lainnya tentang kehadiran Islam di Amerika jauh sebelum Columbus datang juga diungkapkan Dr Barry Fell, seorang arkeolog dan ahli bahasa dari Universitas Harvard. Dalam karyanya berjudul Saga America, Fell menyebutkan bahwa umat Islam tak hanya tiba sebelum Columbus di Amerika. Namun, umat Islam juga telah membangun sebuah peradaban di benua itu.
Fell juga menemukan fakta yang sangat mengejutkan. Menurut dia, bahasa yang digunakan orang Pima di Barat Daya dan bahasa Algonquina, perbendaharaan katanya banyak yang berasal dari bahasa Arab. Arkeolog itu juga menemukan tulisan tua Islami di beberapa tempat seperti di California.
Di Kabupaten Inyo, negara bagian California, Fell juga menemukan tulisan tua lainnya yang berbunyi 'Yasus bin Maria' yang dalam bahasa Arab berarti "Yesus, anak Maria". "Ini bukan frase Kristen,'' cetus Fell. Faktanya, menurut dia, frase itu ditemukan dalam kitab suci Alquran. Tulisan tua itu, papar dia, usianya lebih tua beberapa abad dari Amerika Serikat.
Arkeolog dan ahli bahasa itu juga menemukan teks, diagram, serta peta yang dipahat di batu yang digunakan untuk kepentingan sekolah. Temuan itu bertarikh antara tahun 700 hingga 800 M. Teks serta diagram itu berisi mata pelajaran matematika, sejarah, geografi, astronomi, dan navigasi laut. Bahasa pengajaran yang ditemukan itu menggunakan tulisan Arab Kufi dari Afrika Utara.
Sejarawan seni berkebangsaan Jerman, Alexander Von Wuthenau, juga menemukan bukti dan fakta keberadaan Islam di Amerika pada tahun 800 M hingga 900 M. Wuthenau menemukan ukiran kepala yang menggambarkan seperti bangsa Moor. Itu berarti, Islam telah bersemi di Amerika sekitar separuh milenium sebelum Columbus lahir.
Dia juga menemukan ukiran serupa bertarik 900 M hingga 1500 M. Artifak yang ditemukan itu mirip foto orang tua yang biasa ditemui di Mesir. Youssef Mroueh dalam tulisannya Muslim in The Americas Before Columbus memaparkan penuturan Mahir Abdal-Razzaaq El, orang Amerika asli yang menganut agama Islam. Mahir berasal dari suku Cherokee yang dikenal sebagai Eagle Sun Walker.
Mahir memaparkan, para penjelajah Muslim telah datang ke tahan kelahiran suku Cherokee hampir lebih dari 1.000 tahun lalu. Yang lebih penting lagi dari sekedar pengakuan itu, kehadiran Islam di Amerika, khususnya pada suku Cherokee adalah dengan ditemukannya perundang-undangan, risalah dan resolusi yang menunjukkan fakta bahwa umat Islam di benua itu begitu aktif.
Salah satu fakta yang membuktikan bahwa suku asli Amerika menganut Islam dapat dilacak di Arsip Nasional atu Perpustakaan Kongres. Kesepakatan 1987 atau Treat of 1987 mencantumkan bahwa orang Amerika asli menganut sistem Islam dalam bidang perdagangan, kelautan, dan pemerintahan. Arsip negara bagian Carolina menerapkan perundang-undangan seperti yang diterapkan bangsa Moor.
Menurut Youssef, pemimpin suku Cherokee pata tahun 1866 M adalah seorang pria bernama Ramadhan Bin Wati. Pakaian yang biasa dikenakan suku itu hingga tahun 1832 M adalah busana Muslim. ''Di Amerika Utara sekurangnya terdapat 565 nama suku, perkampungan, kota, dan pegunungan yang akar katanya berasal dari bahasa Arab,'' papar Youssef.
Fakta-fakta itu membuktikan bahwa Islam telah hadir di tanah Amerika, ketika kekhalifahan Islam menggenggam kejayaannya. Hingga kini, agama Islam kian berkembang pesat di Amerika - apalagi setelah peristiwa 11 September. Masyarakat Amerika kini semakin tertarik dan meyakini bahwa Islam adalah agama yang paling benar. heri ruslan
( )
Pengaruh Islam di Benua Amerika
Sekali-kali cobalah Anda membuka peta Amerika. Telitilah nama tempat yang ada di Negeri Paman Sam itu. Sebagai umat Islam, pastilah Anda akan dibuat terkejut.
Apa pasal? Ternyata begitu banyak nama tempat dan kota yang menggunakan kata-kata yang berakar dan berasal dari bahasa umat Islam, yakni bahasa Arab.
Tak percaya? Cobalah wilayah Los Angeles. Di daerah itu ternyata terdapat nama-nama kawasan yang berasal dari pengaruh umat Islam. Sebut saja, ada kawasan bernama Alhambra. Bukankah Alhambra adalah nama istana yang dibangun peradaban Islam di Cordoba?
Selain itu juga ada nama teluk yang dinamai El Morro serta Alamitos. Tak cuma itu, ada pula nama tempat seperti; Andalusia, Attilla, Alla, Aladdin, Albany, Alcazar, Alameda, Alomar, Almansor, Almar, Alva, Amber, Azure, dan La Habra.
Setelah itu, mari kita bergeser ke bagian tengah Amerika. Mulai dari selatan hingga Illinois juga terdapat nama-nama kota yang bernuansa Islami seperti; Albany, Andalusia, Attalla, Lebanon, dan Tullahoma. Malah, di negara bagian Washington terdapat nama kota Salem.
Pengaruh Islam lainnya pada penamaan tempat atau wilayah di Amerika juga sangat kental terasa pada penamaan Karibia (berasal dari bahasa Arab). Di kawasan Amerika Tengah, misalnya, terdapat nama wilayah Jamaika dan Kuba. Muncul pertanyaan, apakah nama Kuba itu berawal dan berakar dari kata Quba - masjid pertama yang dibangun Rasulullah adalah Masjid Quba. Negara Kuba beribu kota La Habana (Havana).
Di benua Amerika pun terdapat sederet nama pula yang berakar dari bahasa Peradaban Islam seperti pulau Grenada, Barbados, Bahama, serta Nassau. Di kawasan Amerika Selatan terdapat nama kota-kota Cordoba (di Argentina), Alcantara (di Brazil), Bahia (di Brazil dan Argentina). Ada pula nama pegunungan Absarooka yang terletak di pantai barat.
Menurut Dr A Zahoor, nama negara bagian seperti Alabama berasal dari kata Allah bamya. Sedangkan Arkansas berasal dari kata Arkan-Sah. Sedangkan Tennesse dari kata Tanasuh. Selain itu, ada pula nama tempat di Amerika yang menggunakan nama-nama kota suci Islam, seperti Mecca di Indiana, Medina di Idaho, Medina di New York, Medina dan Hazen di North Dakota, Medina di Ohio, Medina di Tennessee, serta Medina di Texas. Begitulah peradaban Islam turut mewarnai di benua Amerika. hri
( )
Senin, 16 Juni 2008Fakta Eksistensi Islam di Amerika
T ahun 999 M: Sejarawan Muslim Abu Bakar Ibnu Umar Al-Guttiya mengisahkan pada masa kekuasaan Khalifah Muslm Spanyol bernama Hisham II (976 M -1009 M), seorang navigator Muslim bernama Ibnu Farrukh telah berlayar dari Kadesh pada bulan Februari 999 M menuju Atlantik. Dia berlabuh di Gando atau Kepulauan Canary Raya. Ibnu Farrukh mengunjungi Raja Guanariga. Sang penjelajah Muslim itu memberi nama dua pulau yakni Capraria dan Pluitana. Ibnu Farrukh kembali ke Spanyol pada Mei 999 M.
Tahun 1178 M: Sebuah dokumen Cina yang bernama Dokumen Sung mencatat perjalanan pelaut Muslim ke sebuah wilayah bernama Mu-Lan-Pi (Amerika). Tahun 1310 M: Abu Bakari seorang raja Muslim dari Kerajaan Mali melakukan serangkaian perjalanan ke negara baru. Tahun 1312 M: Seorang Muslim dari Afrika (Mandiga) tiba di Teluk Meksiko untuk mengeksplorasi Amerika menggunakan Sungai Mississipi sebagai jalur utama perjalanannya.
Tahun 1530 M: Budak dari Afrika tiba di Amerika. Selama masa perbudakan lebih dari 10 juta orang Afrika dijual ke Amerika. Kebanyakan budak itu berasal dari Fulas, Fula Jallon, Fula Toro, dan Massiona - kawasan Asia Barat. 30 persen dari jumlah budak dari Afrika itu beragama Islam.
Tahun 1539 M: Estevanico of Azamor, seorang Muslim dari Maroko, mendarat di tanah Florida. Tak kurang dari dua negara bagian yakni Arizona dan New Mexico berutang pada Muslim dari Maroko ini. Tahun 1732 M: Ayyub bin Sulaiman Jallon, seorang budak Muslim di Maryland, dibebaskan oleh James Oglethorpe, pendiri Georgia. Tahun 1790 M: Bangsa Moor dari Spanyol dilaporkan sudah tinggal di South Carolina dan Florida.
Sejarah Perkembangan Islam di Dunia
Islam dimulai dengan ajaran Muhammad
saw., di tempat kelahirannya Mekkah; sifat-sifat yang menjadi ciri agama
baru ini dikembangkan setelah beliau pindah ke Madinah dalam tahun 622
M. Sebelumnya beliau wafat sepuluh tahun kemudian, telah jelaslah sudah
bahwa Islam bukannya semata-mata merupakan suatu badan kepercayaan agama
pribadi, akan tetapi Islam meliputi pembinaan suatu masyarakat merdeka,
dengan sistem sendiri tentang pemerintahan, hukum, dan Lembaga Generasi
Muslimin pertama, telah menginsafi bahwa Hijrah adalah satu titik
perubahan penting dalam sejarah. Merekalah yang menetapkan tahun 622 M
sebagai permulaan takwin Islam baru.
Dengan pemerintah yang kuat, cerdas, dan
satu kepercayaan yang menggelorakan semangat penganut-penganut dan
tentara-tentara dalam waktu yang tidak lama, masyarakat baru ini
menguasai seluruh Arabia Barat dan mencari dunia baru untuk ditundukkan.
Setelah sedikit kemunduran pada wafat
Muhammad saw., gelombang penaklukan bergerak dengan cepat di Arabia
bagian Utara dan Timur, berani menyerang kubu-kubu pertahanan di
perbatasan kerajaan Romawi Timur di Syirq al-Ardun dan kerajaan Persia
di Irak. Selatan. Angkatan-angkatan perang kedua kerajaan raksasa ini
–karena perang tidak henti-hentinya– telah kehabisan kekuatan,
dikalahkan satu-persatu dalam suatu rangkaian operasi cepat dan
cemerlang. Dalam waktu enam tahun sesudah Muhammad saw. wafat, seluruh
Siria dan Irak diharuskan membayar upeti kepada Madinah, dan empat tahun
kemudian Mesir digabungkan pada kerajaan Islam baru.
Kemenangan-kemenangan yang mengagumkan
tadi, mendahului kemenangan yang lebih besar lagi akan membawa orang
Arab dalam waktu kurang dari satu abad ke Maroko, Spanyol, Perancis,
pintu-pintu kota Konstantinopel, jauh ke Asia Tengah sampai ke Sungai
Indus, membuktikan sifat Islam sebagai suatu kepercayaan kuat, insaf
akan harga diri, dan jaya. Sifat ini mengakibatkan pendirian yang tidak
kenal menyerah dan memusuhi segala yang ada diluarnya, tetapi
menunjukkan toleransi, kesabaran hati yang luas dalam pelbagai
masyarakat, keseganan menuntut orang dari golongan lain, dan kebesaran
hati mereka dalam waktu kegelapan.
Pada tahun 660 M. ibu kota Kerajaan Arab
dipindahkan ke Damsyik, tempat kedudukan baru Khalifah Bani Umayah.
Sedangkan Madinah tetap merupakan pusat pelajaran agama Islam;
pemerintah dan kehidupan umum kerajaan dipengaruhi oleh adat-istiadat
Yunani Rumawi Timur. Tingkat pertama saling pengaruh-mempengaruhi dengan
peradaban yang lebih tua ini tidak hanya dilambangkan dengan dua buah
monumen, yang indah sekali dari zaman Bani Umayahh ialah Mesjid Raya di
Damsyik dan Mesjid Al-Aqsa di Darusalam, akan tetapi kemunculan
tiba-tiba cara aliran-aliran baru dan pendapat yang berlawanan dengan
paham resmi di “propinsi-propinsi baru.” Akibat paling akhir dari
pertumbuhan demikian ialah perpecahan antara lembaga-lembaga agama dan
duniawi dalam masyarakat Islam. Pembelahan ini merusakkan azas duniawi
Bani Umayah, dan ditambah dengan rasa ketidakpuasan para warga negara
bukan Arab, dan pecah perang saudara diantara suku, Arab, menyebabkan
jatuhnya tahun 750 M.
Dalam pada itu, perselisihan tadi
menjelaskan bahwa dalam abad yang lampau sejak wafat Muhammad saw.
kebudayaan agama Islam telah mengalami perkembangan dan konsolidasi yang
luar biasa, baik, di dalam maupun di luar Arabia. Seorang guru agama di
satu pihak menunjukkan perkembangan kebatinan pada tingkat tertinggi.
Ia menyatakan inti sari yang penting dan menghidupkan itu dengan
kepribadiannya dan keyakinannya sehingga tampak pada penganutnya sebagai
wahyu kebenaran baru..
Itulah sumbangan asasi yang menentukan
dari orang Arab terhadap kebudayaan Islam baru. Terhadap peradaban
materiil sokongan mereka sedikit. Kemajuan materiil baru mulai; dengan
cemerlang setelah Bani Abbas menggantikan Bani Umayah sebagai khalifah,
dan mendirikan ibu kotanya yang baru di Baghdad dalam tahun 762 M. Masa
pertama dari penaklukan wilayah luar Arabia telah lampau, disusul oleh
masa perluasan ke dalam. Abad kesembilan dan kesepuluh Masehi
menyaksikan puncak kemajuan peradaban Islam yang luas dan usaha-usaha
yang berhasil. Kerajinan, perdagangan, kesenian bangunan, dan beberapa
kesenian yang kurang penting, berkembang dengan subur waktu Persia,
Mesopotamia, Siria, dan Mesir, memberikan sokongan mereka dalam usaha
serentak.
Kegiatan-kegiatan baru ini menumbuhkan
kehidupan intelektual. Sedang ilmu pengetahuan agama berkembang pada
beberapa pusat baru terbesar dari Samarqand sampai ke Afrika Utara dan
Spanyol, kesusasteraan dan pikiran dengan menggunakan sumber-sumber
Yunani, Persia, dan juga India, melebar ke jurusan baru, seringkali
bebas dari tradisi Islam dan banyak sedikitnya memberontak terhadap
kepicikan dan kesempatan sistem kuno. Dengan dorongan perluasan kaki
langit alamiah, kecerdasan pikiran, keduniawian, dan kerohanian, saling
pengaruh mempengaruhi dengan hebatnya.
Sukarlah untuk menyatakan dengan singkat
usaha-usaha bidang intelektual yang bermacam-macam dalam zaman tersebut.
“Ilmu pengetahuan Islam” yang lain seperti sejarah dan ilmu bahasa,
melebar hingga meliputi sejarah duniawi dan kesusasteraan. Ilmu
kedokteran dan ilmu pasti Yunani disediakan dalam perpustakaan buku-buku
terjemahan dan dikembangkan oleh sarjana Persia dan Arab, khusus ilmu
Aljabar, ilmu ukur segitiga, dan ilmu optik (penglihatan). Ilmu bumi
–barangkali yang boleh diumpamakan barometer kebudayaan yang paling
cermat– berkembang pada seluruh cabangnya, di bidang politik, organik,
matematik, astronomik, ilmu alam, dan pesiar, meluas demikian jauh
hingga meliputi negara-negara dan peradaban bangsa yang jauh letak
kediamannya.
Ilmu pengetahuan baru tersebut, boleh
dikatakan hanya mengenai jumbai-jumbai, pinggiran kebudayaan agama,
pemasukan ilmu mantik, dan filsafat Yunani, mau tidak mau menumbuhkan
perselisihan paham yang tajam dan pahit. Pertikaian ini memuncak dalam
abad ketiga. Para pemimpin Islam melihat dasar-dasar kerohanian
dibahayakan oleh keingkaran halus dan cerdik paham rasionalisme murni.
Walaupun mereka akhirnya mengalahkan pelajaran yang berpengaruh Yunani,
ilmu filsafat selalu tetap harus dicurigai dalam pandangan para alim
ulama, biarpun ilmu tadi hanya dipelajari sebagai alat perbantahan dan
pembahasan. Lebih berbahaya ialah akibat kemenangan yaitu pertumbuhan
dalam kalangan ahli agama, semacam perasaan iri hati terhadap usaha para
intelektual yang bercorak murni keduniawian ataupun yang memberanikan
diri ke luar dari bidang pengawasan mereka.
Selain keutamaan segi intelektual dan
fungsi dalam pelajaran, syariat ialah alat yang paling luas pengaruhnya
dan paling tepat membentuk ketertiban sosial dan kehidupan masyarakat
bagi bangsa-bangsa Islam. Oleh karena lengkapnya, maka syariat memberi
tekanan yang tidak hentinya pada segala kegiatan pribadi dan sosial, dan
mewujudkan suatu ukuran-baku yang harus dianut lebih lama, meskipun ada
rintangan kebiasaan kuno dan adat-istiadat yang telah berlaku lama.
Khusus suku nomad dan suku yang diam di pegunungan, berlawanan. Tambahan
pula, syariat memberikan pernyataan praktis dalam memperjuangkan
persatuan yang menjadi ciri Islam. Hukum tadi dalam segala pokok yang
penting adalah seragam, walaupun pelbagai mazhab berbeda dalam beberapa
pasal kecil. Pertumbuhan ini disebabkan karena cita-cita sosial dan cara
hidup di seluruh dunia Islam dalam abad pertengahan menuju arah yang
sama. Syariat lebih dalam mempengaruhi kehidupan hukum Rumawi; karena
memiliki landasan agama dan ancaman hukuman Tuhan, maka syariat adalah
pengatur rohani merupakan suara hati umat Islam dalam semua segi dan
kegiatan kehidupannya.
Tugas hukum syariat ini bertambah besar
artinya waktu kehidupan politik dunia Islam lebih lama menyimpang dari
keinginan Muhammad saw. dan pengganti-pengganti beliau yaitu
pemerintahan berdasarkan ketuhanan. Keruntuhan khalifah Bani Abbas dalam
abad kesembilan dan kesepuluh Masehi membuka pintu tidak hanya bagi
kehancuran politik, tetapi juga bagi perebutan kekuasaan kerajaan oleh
pangeran-pangeran setempat dan gubernur militer, terbit dan tenggelamnya
kerajaan-kerajaan yang berumur pendek, dan berkobarlah perang saudara.
Bagaimanapun hebatnya kekuatan politik dan militer kerajaan Islam itu
telah dilemahkan, gengsi moral hukum syariat lebih dijunjung dan dapat
mengutuhkan serta mengukuhkan bentuk sosial Islam sepanjang pasang surut
nasib politik Islam.
Pada akhir, abad kesepuluh Masehi, daerah
Islam sedikit lebih luas dibandingkan pada tahun 750. Semenjak
diciptakan suatu peradaban besar, memuncak kehidupan intelektual, kaya
dan cerdas dalam bidang ekonomi, dipersatukan dengan kukuh oleh syariat
yang dihormati; seluruhnya merupakan penjelmaan kekuasaan Islam rohani
dan duniawi. Waktu kekuatan militernya berkurang, maka sebagaimana juga.
terjadi dengan kerajaan Rumawi enam abad sebelumnya, kerajaan Islam
berangsur-angsur dikuasai oleh bangsa-bangsa biadab dari luar
perbatasannya; dan juga seperti kerajaan Rumawi, mengenakan pada bangsa
biadab tadi agamanya, hukumnya, dan penghormatan terhadap peradabannya.
Bangsa-bangsa biadab itu ialah Turki yang
berasal dari Asia Tengah. Tekanan ke arah Barat membawa orang Bulgar,
Magiar, Kumari, Pecineg ke Rusia Selatan dan Eropa Timur, mendatangkan
suku-suku lain ke Iran dan lebih ke Barat, ke Irak, dan Anatolia.
Pekerjaan pengislaman telah dilakukan, waktu mereka masih diam di tempat
asalnya di Asia Tengah; oleh karena itu, kerajaan Sultan Turki yang
didirikan di Asia Barat mula-mula hanya membawakan sedikit perubahan
yang tampak ke luar dalam kehidupan rumah tangga umat Islam. Akibat
pertama adalah perluasan militer; ke arah Tenggara menuju India Utara,
ke arah Barat Laut menuju Asia Kecil. Pada waktu yang sama, jauh di
sebelah Barat, suku Berber nomad telah membawa Islam, ke tepi dunia
Afrika Negro di daerah lembah Senegal dan Niger sedang buku-buku Arab
nomad yang tidak diawasi lagi oleh kekuasaan khalifah yang terdahulu
telah merusakkan dan melengahkan pusat peradaban yang telah didirikan
oleh bangsanya sendiri sebelum di atas puing runtuhan Afrika Romawi dan
Bizantium.
.Mulai abad kesebelas Masehi, ilmu Sufi
mengerahkan kebaktian sebagian besar kegiatan kerohanian umat Islam, dan
mendirikan suatu sumber pembaharuan kepribadian yang sanggup
mempertahankan tenaga kebatinan selama abad-abad sesudahnya penuh dengan
kemerosotan politik dan perekonomian.
Para ahli Sufi, baik sebagai penyiar
perseorangan maupun (di kemudian hari) sebagai anggota dalam gabungan
tarekat merupakan pemimpin dalam tugas mengislamkan orang penyembah
berhala, yang tidak beragama, dan suku yang hanya tipis sekali
pengislamannya. Penyebaran agama berhasil ialah terbanyak oleh kawan
sebangsa sendiri dari suku-suku tersebut yang biasanya kikuk, buta
huruf, dan kasar. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar yang
memungkinkan generasi kemudian menerima keadaban hukum syariat dan
tauhid yang lebih halus. Berkat pekerjaan mereka, maka dalam abad-abad
berikutnya, batas-batas daerah Islam dapat diperluas di Afrika, India,
dan Indonesia, melintangi Asia Tengah ke Turkestan dan Tiongkok, dan di
beberapa bagian Eropa Tenggara
.
Perkembangan yang digambarkan di muka
tadi dipercepat oleh malapetaka yang berturut-turut terjadi di Asia
Barat dalam abad ketiga belas dan keempat belas. Penyerbuan pertama kaum
Mongol penyembah berhala, membumihanguskan propinsi-propinsi bagian
Timur Laut antara 1220 dan 1225 M. Gelombang kedua yang menduduki Persia
dan Irak menamatkan khalifah Baghdad yang bersejarah dalam 1258 M, dan
memaksakan seluruh dunia Islam Timur, terkecuali Mesir, Arabia, dan
Siria, membayar upeti kepada kerajaan Mongol yang besar. Sisa-sisanya
diselamatkan oleh golongan militer terdiri dari “budak belian” Turki dan
Kipcak, kaum Mamluk, yang telah merebut kekuasaan politik di Mesir.
Di bawah pemerintahan Mamluk, peradaban
Islam yang lama langsung berkembang lebih kurang dua setengah abad dalam
bidang kesenian benda (istimewa dalam lapangan seni bangunan dan
seni-kerajinan logam), tetapi disertai kemunduran daya kerohanian dan
intelek.
Pada waktu yang sama, di daerah-daerah
kekuasaan Mongol hidup kembali suatu peradaban Islam Persia yang
cemerlang pada beberapa segi. Terutama dalam seni bina dan kesenian
halus, termasuk seni lukis dalam bentuk yang sangat kecil (miniatur);
kebudayaan tersebut berakar dalam kerohanian Sufi. Meskipun kedatangan
dua kali “Maut Hitam” dan mengalami serbuan Timur Lenk dalam abad
keempat belas yang menghancurleburkan Persia, namun kebudayaan Persia
mampu memberikan ragam kepada kehidupan intelektual dari
kerajaan-kerajaan Islam baru, –yang dilahirkan pada kedua sisinya– di
Anatolia, Balkan, dan India.
Perluasan kerajaan Dinasti Osman di Asia
dan Afrika Utara serta pembentukan kerajaan Mughal di India dalam abad
keenam belas membawa sebagian besar dunia Islam kebawah pengawasan
pemerintahan negara keduniawian yang kuat, memusatkan kekuasaannya yang
besar. Ciri khas kedua kerajaan tadi ialah menitikberatkan pada
pandangan ahli sunah waljamaah dan hukum syariat. Urusan agama dan
urusan ketatanegaraan tidak dipersatukan karena kebijaksanaan militer
dan sipil disusun menurut garis tidak Islam yang bebas, tetapi dapat
saling menyokong akibat suatu persetujuan yang berlangsung hingga abad
kesembilan belas.
Diantara dua saluran kehidupan agama
Islam tersebut, saluran Sufilah yang lebih lebar dan dalam. Abad ketujuh
belas dan permulaan abad kedelapan belas menyaksikan puncak tertinggi
tarekat Sufi. Tarekat-tarekat besar menyebarkan suatu jalinan
perhimpunan-perhimpunan dari mula hingga akhir dunia Islam, sedang
perkumpulan-perkumpulan setempat dan cabang-cabangnya menggabungkan
anggota pelbagai golongan dan kejuruan jadi umat yang bersatu padu.
Selain itu, kebudayaan Islam dalam dua kerajaan tersebut yang hanya
hidup atas warisan zaman silam, dapat memelihara, akan tetapi jarang
dapat menambah kekayaan warisan intelektual tersebut. Tokoh-tokohnya
berpendapat bahwa kewajibannya pertama ialah bukan hanya memperluas,
akan tetapi memelihara, menyatukan, dan menyesuaikan kehidupan sosial
atas sendi-sendi nilai Islam. Dalam batas-batas tersebut kadar persatuan
yang telah mereka capai, dan ketertiban sosial yang dapat dilangsungkan
memang menarik perhatian.
Persatuan itu merupakan suatu kekecualian
yang menyolok mata. Dalam permulaan abad keenam belas, suatu kerajaan
baru yang disokong oleh suku Turki dan Adzerbaijan menaklukan Persia dan
menghidupkan kembali Syiah yang telah mengalami kemunduran, dan
meresmikan Syiah sebagai agama resmi Persia. Selama peperangan dengan
Dinasti Osman, orang Turki dari Asia Tengah, dan orang Mughal, yang
semuanya ahli sunah waljamaah, Syiah dijadikan ciri perasaan nasional
Persia. Akibat perpecahan antara Persia dan tetangganya penting buat
semuanya. Umat Islam selanjutnya dipecah menjadi dua golongan yang
terpisah, dan hubungan kebudayaan antara dua golongan tadi, sejak itu
meskipun tidak diputuskan seluruhnya hanya dapat dilakukan serba sedikit
saja. Persia terpaksa terpencil dalam urusan politik dan agamanya
mencukupi kebutuhannya sendiri, yang akhirnya memiskinkan kehidupan
rohani dan budaya mereka. Lebih-lebih pula waktu kekuatan politiknya
mundur, orang suku Afghan dalam abad kedelapan belas melepaskan hubungan
dan mendirikan suatu negara sunah merdeka.
Di Afrika Barat Daya adanya perasaan
kesukuan diantara kedua pihak, orang Arab dan Berber, menukarkan
kegiatan kebudayaan. Aliran ortodoks dan tarekat Sufi, keduanya
dipengaruhi pemujaan orang-orang suci, wali yang masih hidup setempat
(“marabout”). Di Tunisia dan di beberapa kota lain, sebagian warisan
kebudayaan Spanyol Arab tetap dilanjutkan, bahkan waktu Tunisia dan
Aljazair merupakan wilayah bajak laut, setengah jajahan kerajaan Dinasti
Osman. Di Maroko di bawah sultan-sultan (yang dapat menyelamatkan
kedaulatannya hingga 1912), bahkan di Sahara Barat di bawah kepala
suku-suku yang lebih kecil, pelajaran ahli sunah yang lazim dilanjutkan,
dan diperkuat oleh pengaruh yang datang dari daerah Timur.
Di kepulauan Melayu sendiri, Islam telah
beroleh tumpuan di Sumatera dan Jawa, oleh pedagang-pedagang dalam abad
ketiga belas dan keempat belas. Agama Islam lambat laun membiak,
sebagian hasil tindakan panglima militer, tetapi lebih cepat dengan
jalan perembesan damai, khusus di Jawa. Dari Sumatera, Islam dibawa oleh
para perantau ke Semenanjung Malaya; juga dari Pulau Jawa ke Maluku.
Sejak itu agama tersebut mendapat kedudukan yang lebih kuat di seluruh
kepulauan di bagian Timur hingga ke Pulau Sulu, Mindanao, dan Filipina.
Penyebaran Islam di Tiongkok hingga kini
masih terselubung dalam kegelapan. Kelompok muslimin dalam jumlah agak
besar, yang pertama menetap di sana –barangkali dalam zaman kerajaan
Mongol– dalam abad ketiga belas dan keempat belas. Jumlahnya bertambah
besar di bawah pemerintah Mancu, biarpun ada perasaan permusuhan
setempat karena pemberontakan (kadang-kadang hebat) yang dilakukan oleh
kaum muslimin. Tetapi, hingga kini tidak mungkin menaksirkan jumlahnya.
Hasil bersih dari perluasan selama tiga
belas abad ialah Islam sekarang merupakan agama yang terutama dalam
lingkungan daerah luas yang meliputi Afrika Utara, Asia Barat, hingga
bukit Pamir, kemudian ke Timur meliputi Asia Tengah hingga
Tiongkok, dan ke Selatan ke Pakistan. Di
India hanya tinggal sepersepuluh penduduk yang beragama Islam. Di
Semenanjung Malaya, Islam unggul lagi melewati Indonesia hingga berakhir
di Filipina. Di pantai Barat Lautan India, Islam memanjang ke selatan
sebagai lajur yang sempit dari pantai Afrika hingga Zanzibar dan
Tanganyika dengan beberapa kelompok hingga masuk ke Uni Afrika Selatan.
Di Eropa, kelompok-kelompok muslimin terdapat di sebagian besar negara
Balkan dan Rusia Selatan. Di Amerika Utara dan Amerika Selatan, Islam
diwakili oleh kelompok imigran dari Timur Tengah.
Semua agama besar di dunia, maka Islam
–sebelumnya perluasan kegiatan misi Kristen dalam abad kesembilan belas–
meliputi jumlah bangsa yang terbanyak. Asal mulanya di tengah-tengah
orang Arab dan bangsa Semit lain, kemudian Islam berkembang diantara
orang Iran, Kaukasus, orang kulit putih Laut Tengah, Slavia, Turki,
Tartar, Tionghoa, India, Indonesia, Bantu, dan Negro dari Afrika Barat.
Jumlah terbesar sekarang ialah muslimin dari Pakistan dan India sebanyak
100.000.000.
Disusul oleh orang Melayu dan Indonesia
sebanyak 70.000.000. Orang Arab dan bangsa-bangsa yang berbahasa Arab
menyusul dekat dengan 20.000.000. Muslimin di Asia Barat, 24.000.000,
Afghanistan kira-kira 12.000.000, dan Turki (walaupun Islam bukan agama
resmi, masih tetap merupakan agama rakyat) 20.000.000. Jumlah masyarakat
Islam di daerah Asia, Uni Sovyet, di Turkestan Tiongkok, dan di
Tiongkok sendiri sukar ditaksir, tetapi jumlahnya sekurang-kurangnya
30.000.000. Jumlah muslimin di Afrika Negro dan Afrika Timur hanya dapat
ditaksir dengan kasar 24.000.000. Akhirnya, kaum muslimin di Balkan dan
di Rusia Selatan berjumlah kurang lebih 3.000.000. Oleh karena itu,
Islam dapat menuntut memiliki penganut 350.000.000, atau kira-kira
sepertujuh dari taksiran seluruh jumlah penduduk dunia
Islam di Amerika Serikat Tiap Hari Bertambah Satu Mualaf
”Alhamdulillah kondisi umat Islam di
Amerika Serikat baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di
Amerika Serikat, baik sebelum maupun sebelum peristiwa 11 September,”
kata Mohammad Kudaimi, angota Nawawi Fondation, sebuah lembaga
pendidikan yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat. Ia bertutur kepada
Republika di sela-sela kunjungannya ke Pesantren Khusus Yatim
As-Syafi’iyah, Jatiwaringin Bekasi, Jawa Barat, awal bulan ini.
Pria keturunan Syria yang sudah menetap
di AS selama lebih dari 25 tahun itu kini menjadi warga negara AS. Lima
tahun belakangan ini, ia aktif di yayasan itu. Mengutip sebuah koran
yang terbit di AS, ia menyebut Islam merupakan agama yang paling cepat
perkembangannya di Amerika Serikat. bahkan, ia sedikit meralat
redaksional tulisan itu. ”Mestinya juga ditambahkan, setiap harinya di
AS, selalu ada warga negara Amerika yang memeluk Islam,” ujarnya.
Apa yang diungkapkannya, kata dia, adalah
fakta sesungguhnya yang terjadi di AS. Lembaganya turut membantu para
mualaf mengikrarkan syahadat dan membantu mereka memahami Islam dengan
lebih baik. Bagi Kudaimi, sulit untuk memahami fenomena kontradiktif
ini.
Langganan:
Postingan (Atom)
















